dindinrasdi

  • Home
  • Dindinrasdi
  • Tutorial
  • Cerita Absurd
  • Novel Online
  • Sekelas Infoh

Selasa, 21 Februari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 7

 Dindin Rasdi     17.32     Novel Online     6 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

 Setelah Encep berhasil juga berkenalan dengan Melisa, mereka langsung segera meninggalkan kantin dengan tidak lupa untuk membayar batagornya yang sudah di makan karena tidak mau mereka dianggap tidak mampu hanya untuk membayar batagor saja. Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi, seperti biasanya semua murid yang masih diluar kelas segera memasuki kelasnya masing-masing kecuali Dindin dan Encep karena mereka sudah berada di kelas sebelum bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.
 
Sekolah berakhir untuk hari ini dan di lanjutkan lagi besok pagi. Semua murid sekolah berbondong-bondong keluar sekolah. Sambil berjalan menuju gerbang masuk atau keluarnya murid sekolah, Dindin masih terus bertanya dengan penasaran mengenai seorang cewek yang sewaktu istirahat berhasil di ajak berkenalan dengan Encep. Sayangnya Encep tidak mau memberitahukan sepenggal hurufpun kepada Dindin mengenai nama seorang cewek itu.
 
Ketika sudah berada di parkiran atau lokasi untuk mengambil kembali semua kendaraan bermotor yang di simpan oleh pemiliknya dan lokasi yang pasti dilalui oleh setiap orang kalau mau masuk atau keluar sekolah, tidak sengaja Dindin melihat Melisa bersama teman sekelasnya dan langsung pelan-pelan menghampirinya dengan mengabaikan Encep yang terus berjalan lurus.
 
“Hey Melisa” Sapa Dindin.
“Hey Dindin” Jawab Melisa.
“Hey Melisa” Sapa Encep yang tidak diketahui Dindin sudah berada disampingnya.
“Loh ko kamu kenal dia?” Tanya Dindin ke Encep.
“Kenal dong, tadikan sudah kenalan”
“Oh… jadi Melisa yang kamu ajak kenalan tadi itu”
“Iya Melisa” Jawab Encep “Cantik yah Din” lanjutnya dengan berbisik ke arah telinga Dindin.
“Oh pastilah”
“Lah kamu juga kenal sama Melisa?”
“Kenal dong”
“Aku duluan yah” Kata Melisa kepada Dindin dan Encep yang sedang asik mengobrolkan dirinya.
“Iyah… Mel, iyah… Sa” Jawab kompak mereka. “Eh” Lanjutnya sambil garuk-garuk kepala.
 
Melisa dan temannya yang belum dikenal pergi meninggalkan mereka, meninggalkan sekolah, meninggalkan kantin, meninggalkan Pak Iman, dan meninggalkan yang lainnya untuk kembali lagi kerumah. Semetara Dindin dan Encep, sempat mengikuti Melisa diam-diam sampai dia menaiki angkot yang berbeda jurusan. Sampai mengetahui arah pulang Melisa yang ternyata terbalik dengan arah pulang Dindin dan Encep.
 
“Iya Mel aku juga suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”
“Iya mau banget Cep”
 
“Encep! Kamu mau sekolah gak?” Bentak ibunya Encep yang menyuruh bangun, karena hari sudah lumayan siang untuk jam berangkat sekolah. Oh ternyata hari sudah berganti. “Aduh ternyata hanya mimpi” Gumam Encep “Kenapa sih, si emak malah bangunin, lagi asik-asiknya nih. Kan gak bisa dilanjut lagi” lanjutnya. Encep segera bergegas menuju kamar mandi dengan lupa tidak membawa handuk.
 
“Mak bisa ambilin handuk Encep mak?”
“Nih” Ibunya Encep memberikan handuk “Makanya mandi itu bawa handuk, cepat mandinya!” Lanjutnya dengan nada sedikit marah.
 
Encep berangkat sekolah dengan tergesa-gesa sampai melupakan sarapannya untuk hari ini, pikirnya mungkin “tidak apa-apa lupa dengan sarapan yang penting asal jangan lupa sama kamu aja, Melisa”. Sesampai di depan gerbang sekolah, gerbangnya sudah di kunci sama Pak Iman. Encep kesiangan beberapa menit. Rupanya bukan hanya Encep yang kesiangan, ada dua orang kelas tiga, satu orang kelas dua, dan satu orang lagi Dindin teman sebangkunya.
 
“Eh Cep, kirain kamu sudah berangkat, tak tahunya sama kesiangan” Tanya Dindin
“Iyah Din, soalnya ingat terus sama Melisa”
“Lah apa hubungannya dengan kesiangan?”
“Tadi aku nembak dulu Melisa dan langsung mau nerimanya”
“Hmm”
“Tapi sayang emakku keburu bangunin mimpi indahnya”
“Hahaha” Dindin ketawa sendiri dengan puas sampai tidak memperhatikan orang lain disekitarnya.
 
Semua orang yang kesiangan sontak mengalihkan pandangannya kepada Dindin seorang. Dengan begitu wajah Dindin dikenali oleh dua anak kelas tiga yang wajahnya terlihat sangar dimata Dindin. Begitu juga Pak Iman yang baru datang untuk melihat orang-orang yang kesiangan untuk memberikan sanksi.
 
“Kamu yah, udah kesiangan bahagia pula” Kata Pak Iman
“Awali hidup ini dengan sebuah kebahagian pak”
“Terserah kamu aja! Mau pulang lagi atau mau masuk”
“Masuklah Pak”
“Ya sudah, tapi harus di beri hukuman dulu”
 
Semua yang kesiangan dimasukan kesekolah oleh Pak Iman tapi dengan di beri hukuman terlebih dahulu. Dindin terlihat senang, sama halnya dengan Encep. Namun tidak berlaku bagi kedua orang kelas tiga, mereka terlihat kesal kepada Dindin dan sepertinya mempunyai niat jahat. Orang-orang yang kesiangan disuruh ke lapangan yang ada disekolah, lapangan yang biasa dipakai upacara di hari Senin, lapangan yang biasa dipakai olahraga sewaktu pelajaran olahraga atau jam istirahat, dan lapangan yang dipakai untuk mengumpulkan semua murid sekolah ketika ada pengumuman mendesak.
 
Mereka di beri hukuman berupa jalan bebek mengelilingi lapangan selama tiga puluh keliling oleh Pak Iman. Wajah senang yang ditunjukan Dindin dan Encep berubah drastis menjadi sebuah kekesalan kepada Pak Iman, tapi kekesalan kedua anak kelas tiga tetap ditujukan kepada Dindin. Setelah mengakhiri tiga puluh keliling lapangan jalan bebek, mereka semua sangat kelelahan. 
 
“Mau kesiangan lagi gak?” Seru Pak Iman.
“Nggak Pak!” Jawab semuanya.
“Ya udah tunggu disini sampai jam pelajaran pertama berakhir! Jangan kemana-mana tetap ditengah lapangan, bapak lihat kalian dari sana”
 
Pak Iman meninggalkan lapangan untuk menuju lokasi yang teduh dan memantau orang-orang yang sedang dihukumnya.
 
“Kamu yah, kanapa malah masuk, bukannya pulang lagi kan enak gak kena hukuman” Kata salah satu anak kelas tiga kepada Dindin.
“Hehe, kan mau sekolah kak” Jawab Dindin.
 
Hukuman berakhir ketika bel pelajaran kedua berbunyi. Mereka terlihat begitu gembira bagaikan seseorang yang mendapatkan hadiah mobil dari undian kuis tanpa pungutan pajak. Semua yang kena hukuman diperbolehkan masuk kelasnya masing-masing meninggalkan Pak Iman seorang. Pak Iman tidak merasa kesepian setelah di tinggalkan oleh mereka, dia langsung menuju pos gerbang sekolah untuk melakukan tugas seperti biasanya.
 
“Awas yah kamu” Kata anak kelas tiga kepada Dindin.
“Hehe” Jawab Dindin dengan senyuman kecil.
 
Dindin dan Encep memulai belajarnya untuk hari ini dari jam pelajaran kedua yaitu Bahasa Inggris, di lanjutkan dengan jam istirahat. Encep diam-diam meninggalkan Dindin tepat beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi untuk menuju ke kelas 10c yang tidak lain adalah kelas tempat Melisa belajar di sekolah.
 
“Eh Din, ko ada disini” Kata Encep tepat setelah sampai di depan kelas 10c.
“Kan mau ketemu sama Melisa”
“Wahh.. kamu suka yah sama Melisa” Bisik Encep dengan wajah cemburu.
“Ya iyalah”
“Yaudah kita bersaing lagi, kali ini untuk Melisa”
 
Ketika asik mengobrolkan Melisa di depan kelasnya, tidak sengaja Melisa lewat di belakang Dindin dan Encep dan mendengar namanya di sebutkan dalam percakapannya.
 
“Ehm…”
“Ehm juga” Jawab Encep.
“Ehm… Ehm…”
“Ehm… Ehm… juga” Jawab Dindin.
“Siapa sih, ganggu ajah” Kata Encep sambil melirik kebelakang “Eh Melisa, hehe”
“Sepertinya kalian lagi ngomongin aku yah”
“Iyah nih, sini gabung” Kata Dindin.
“Boleh nih gabung?”
“Apapun buat kamu gak ada yang gak boleh”
“Hehe”
 
Mereka bertiga akhinya bergabung dalam satu kumpulan perbincangan mengenai Melisa, namun sejak Melisa bergabung hanya keheningan yang di dapat oleh Melisa. Dindin dan Encep malah fokus untuk menatap wajah Melisa yang ada dihadapannya.
 
~Bersambung~
Jangan lupa komentarnya yah, biar semangat untuk lanjut nulisnya. Heuheu
 
 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Jumat, 03 Februari 2017

Cara membuka Google

 Dindin Rasdi     15.31     Tutorial     No comments   

 
 
Siapa sekarang yang tidak tahu google? Paling orang pedalaman yang jauh dengan teknologi. Sudah tidak asing lagi nama google di kalangan anak-anak sampai orang tua di berbagai negara akhir-akhir ini. Tidak heran kalau apapun bisa kamu cari di google, kecuali mungkin pasangan hidup.
 
Untuk postingan kali ini aku akan kasih tau cara membuka google bagi pemula atau bagi orang yang pertama kali mendengar kata google dan ingin mengetahuinya. Google adalah salah satu search engine yang sangat popular di dunia yang di ciptakan oleh sebuah manusia. Oke langsung saja, inilah cara membuka google. Sebelum membukanya, kamu harus tahu kalau kamu masih hidup.
 
  • Pertama. Kamu di haruskan sudah punya smartphone atau laptop atau pc atau gadget lainnya.
  • Kedua. Di pastikan gadgetnya sudah terhubung ke jaringan Internet.
  • Ketiga. Jangan lupa kamu harus punya kuota internet. Percuma saja kalau gadgetnya sudah terhubung ke jaringan internet tapi tidak ada kuota sama sekali. Kamu bisa membeli terlebih dulu kuotanya atau meminta sumbangan kuota dari saudara, teman, atau sejenis manusia lainnya yang berbaik hati.
  • Keempat. Kamu hanya tinggal mencari aplikasi browser di gadgetmu bisa itu Mozila Firefox, Google Crome, Internet Explore, UC browser, Operamini, dan lainya. Setelah ketemu buka aplikasinya. Kalau kamu tidak punya aplikasinya kamu bisa install terlebih dulu di gadgetmu.
  • Kelima. Cari address bar di aplikasi browsemu, setelah ketemu ketikan www.google.com. Tunggu sampai gambar google muncul dan selamat kamu telah berhasil membuka google. Kamu bisa cari apapun disitu, ingat kecuali mungkin kamu tidak akan bisa mencari pasangan hidup di google.
Nah begitulah cara membuka google bagi pemula. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Semoga kamu sehat selalu, panjang umur sepanjang jalan kenangan, dan sudah mandi.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Kamis, 02 Februari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 6

 Dindin Rasdi     16.44     Novel Online     19 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

Beberapa hari setelah merelakan Sari dengan Junaedi, sepertinya Dindin dan Encep sedikit kehilangan penyemangat dalam hidupnya untuk pergi ke sekolah. Namun Encep tetap sekolah karena dia sadar, kalau tidak sadar dia pasti sudah berada di rumah sakit. Maksudnya dia sadar kalau dia tidak sekolah dia mau ngapain di rumah, juga tidak dapat uang jajan dari orang tuanya. Sedangkan Dindin selalu berusaha mengajak Encep untuk bolos sekolah akhir-akhir ini. Sesekali Encep menolaknya sampai kemudian dia menyetujuinya.
 
  “Tapi aku hanya menemani saja ya Din” Kata Encep setelah berhasil di bujuk Dindin.
  “Iya Encep, iya”
 
Untuk pertama kalinya bolos sekolah, mereka hanya bisa diam di warung kecil dekat terminal. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali hanya melihat kendaraan yang melewatinya sesekali menghitung jumlah mobil angkot.
 
  “Enam belas, Sembilan belas..” Gumam Dindin.
  “Oh iya” Encep menepuk bahu Dindin dengan tangannya.
  “What, what, ada apa cep?” Dindin terlihat kaget dan kemudian di ikuti dengan perasaan gelisah.
  “Gimana kalau kita naik angkot ke terminal Ratupulo, terus sesudah sampai disana kita bengong lagi disana” Sekilas info: Ratupulo itu adalah sebuah terminal, dan mereka sekarang sedang berada di terminal Ciaren yang biasa dilewati ketika mau pergi dan pulang sekolah.
  “Disana bengong, disini juga bengong”
  “yaudah kalau gitu jangan langsung bengong pas sudah sampai disana, kita nyari angkot lagi yang menuju ke terminal Ciaren, kita balik lagi kesini”
  “Hm.. boleh juga, ya udah ayo!”
 
Begitulah mereka untuk hari ini, hanya bisa bolos sekolah dan tidak melakukan apapun selain bolak-balik dari terminal Ciaren ke terminal Ratupulo sampai akhirnya pulang lebih awal ke rumahnya masing-masing.
 
Besok paginya Hari Rabu tidak bolos lagi, mereka pergi ke sekolah walau dengan kekurangan semangat. Bertemu dengan teman-temannya, gurunya, Bi Acah, Bi Itoh, dan yang lainnnya membuat suasana mereka tetap sama. Sepertinya Encep sudah lebih dulu pergi ke kelas. Ketika Dindin berjalan sendirian hendak menuju kelas, dia bertemu dengan Junaedi, Junaedi langsung menyapanya.
 
  “Kemarin kemana Din? Gak masuk?” Tanya Junaedi.
  “Gak masuk apa Jun?”
  “Gak masuk sekolah lah, masa masuk penjara”
  “Oh… Enggak kemana-mana Jun, lagi males sekolah aja” Jawab Dindin dengan datar. “Enggak ada penyemangatnya” Lanjutnya dengan pelan namun tetap terdengar oleh Junaedi.
  “Ya udahlah” Junaedi menepuk bahunya “Go Dindin go Dindin go!” Seru Junaedi dengan kencang dan penuh semangat.
  “Ha ha ha” Dindin tertawa dengan sengaja membalas pengorbanan Junaedi yang telah berusaha menyemangatinya.
  “Oh iya Din, nih ada cewek cantik di kelas 10c namanya itu Melisa”
  “Iya Jun makasih” Dindin meninggalkan Junaedi begitu saja untuk langsung menuju kelas.
 
Pelajaran pertama di buka dengan pelajaran matematika, oh Dindin sangat tidak menyukai pelajaran matematika begitu juga Encep. Nampaknya mereka benar-benar seperti sudah berkompromi untuk tidak menyukai matematika. Tapi tidak tahu kalau Asep keliatannya dia begitu serius memperhatikan Pak Somad yang juga serius menerangkan di depan semua murid.
 
  “Oke ada yang mau di tanyakan?” Pak Somad mengajukan pertanyaan kepada semua murid setelah selesai menerang satu soal matematika. “Iya kamu? Kenapa?” lanjut Pak Somad yang melihat Dindin mengacungkan tangannya.
  “Ijin ke WC pak” Kata Dindin
  “Oh ya udah, jangan lama!”
 
Dindin meninggalkan teman sebangkunya yaitu Encep dan juga teman sekelasnya beserta Pak somad. Setelah Dindin keluar dari kelas, sepertinya tidak ada yang menanyakan apapun kepada Pak Somad tentang pelajaran yang ia terangkan. Lantas Pak Somad tidak bersedih dan melanjutkan kembali menerangkan soal berikutnya. Ternyata Dindin tidak pergi ke wc sebagaimana yang telah ia ucapkan kepada Pak Somad, tetapi dia malah pergi ke arah menuju kelas 10c. Benar Dindin memang pergi menuju kelas 10c dan langsung mengetuk pintunya yang tertutup. Tepat di ketukan ke tiga seseorang membukanya.
 
  “Anu... ada yang namanya Melisa bu?” Dindin langsung bertanya.
  “Oh ada, ada apa yah?” Jawab ibu guru yang membuka pintunya, tapi tidak tahu siapa namanya.
  “Itu kata Pak kepala sekolah di tunggu di kantor, sekarang”
 
Ibu guru menyuruh kepada murid kelas 10c yang namanya Melisa untuk keluar sesuai dengan apa yang telah Dindin bilang. Melisa merasa dirinya terlihat orang yang bersalah ketika mendengar ibu guru menyuruhnya keluar di karenakan Pak kepala sekolah mau bertemu. Setelah menutup pintunya dari luar, Melisa hanya melihat seorang lelaki yang bukan Pak kepala sekolah melainkan seseorang yang ia kenal tapi tidak tahu namanya.
 
  “hay?” Sapa Dindin
  “hay, siapa yah?”
  “Oh belum kenal yah, yaudah kenalan dulu” Dindin menyodorkan tangannya untuk bersalaman “Dindin” Lanjutnya
  “Me..”
  “Melisa kan?”
  “Loh ko tahu nama ku, Oh kamu yah Bapak kepala sekolahnya!”
  “Hehe… salam kenal yah”
 
Mereka berhasil dengan sukses berkenalan. Melisa kembali lagi ke kelas untuk melanjutkan belajarnya yang entah belajar apa dengan perasaan damai, begitu juga Dindin kembali untuk pelajaran matematikanya. Selesai Matematika, di lanjut dengan pelajaran IPS, di lanjut lagi dengan suara bel yang sangat di nantikan selain bel pulang sekolah. Iya benar sekali, bel peringatan untuk istirahat berbunyi, semua murid langsung keluar dari kelasnya tanpa di suruh lagi oleh bapak/ibu gurunya.
 
Di depan toilet laki-laki, Encep melihat sekumpulan anak kelas tiga ketika hendak mau pergi ke kantin tentu bersama Dindin. Encep mengenali salah satu dari anak kelas tiga tersebut, tapi tidak tahu namanya di karenakan belum sempat untuk berkenalan. Sesampainya di kantin, seperti biasa mereka memesan terlebih dahulu di lanjut dengan menunggunya, sebelum bisa menyantap batagornya.
 
Ketika asik mengobrol sambil menyantap batagor, Encep tidak sengaja melirik ke arah dua orang cewek yang sama sedang di kantin. Dengan gesit Encep langsung mendekati kedua cewek tersebut dengan meninggalkan Dindin yang fokus untuk menghabiskan batagornya.
 
  “Hmm” Encep menyapanya sambil mencolek sedikit bahu cewek itu.
  “Eh” Jawabnya dengan kaget.
  “Kamu Nina kan?”
  “Eh, bukan”
  “Lah, terus siapa kalau bukan Nina?”
  “Aku Melisa”
  “Oh, hay Melisa?”
  “Hay juga” Jawab Melisa dengan heran “Siapa yah?” Lanjutnya.
  “Oh iya, belum kenalan yah” Encep mengulurkan tangannya untuk bersalaman “Encep” tapi Melisa tidak mau bersalaman.
  “Hmm, aku duluan yah” Melisa meninggalkan Encep begitu saja.
  “Eh, kamu kelas mana?” Cetus Encep dengan sedikit menghampiri Melisa.
  “10c” Jawabnya dengan singkat sambil terus menjauh meninggalkan Encep untuk pergi ke kelas, mungkin.
 
Kelihatannya Encep begitu senang ketika kembali menghampiri Dindin seorang yang sudah hampir menghabiskan batagor.
 
  “Dari mana Cep?” Tanya Dindin
  “Tadi ada cewek cantik Din, ya udah aku samperin”
  “Ah anjir kamu gak ajak-ajak, kirain kemana”
  “Cantik Din euy”
  “kelas mana? Siapa namanya?”
  “...“
 
~Bersambung~
Jangan lupa komentarnya yah, biar semangat untuk lanjut nulisnya. Heuheu
 
 


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

FOLLOW ME, OK!

  • Twitter Facebook Instagram Google Plus Youtube Channel

POSTINGAN POPULER

  • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Beberapa hari setelah merelakan Sar...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 4
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya.   Hari hari terus berlanjut, tanpa ...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 5
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Tidak terasa sudah berada di hari S...

Arsip Blog

  • ▼  2017 (8)
    • ►  September (1)
    • ▼  Februari (3)
      • CINTA-CINTAAN | Episode 7
      • Cara membuka Google
      • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    • ►  Januari (4)
  • ►  2016 (18)
    • ►  Desember (12)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)

Copyright © dindinrasdi