dindinrasdi

  • Home
  • Dindinrasdi
  • Tutorial
  • Cerita Absurd
  • Novel Online
  • Sekelas Infoh

Selasa, 17 Januari 2017

Ingin Sekolah.

 Dindin Rasdi     22.54     Cerita Absurd     14 comments   

Aku masih mengingatnya, tapi aku lupa waktu itu aku berumur berapa, pokoknya waktu itu aku masih kecil, masih belum sekolah, aku sangat ingin sekali pergi untuk sekolah. Di sebabkan, setiap hari, setiap pagi, aku sering melihat orang-orang yang melewati rumahku untuk pergi sekolah dengan memakai seragamnya kecuali hari minggu dan tanggal merah lainnya. Lebih tepatnya aku penasaran ada apa selama ini orang-orang selalu pergi sekolah. Kakakku sendiri, kakak perempuan, waktu itu masih sekolah SD atau Sekolah Dasar, mau pergi sekolah dan aku juga melihatnya. Aku sempat menangis merengek kepada ibu untuk bisa ikut sekolah bersama kakak, tapi ibu tidak memperbolehkannya. Hanya memberikan beberapa uang receh untuk membuat berhenti menangis dan membuat aku senang.
 
Sampai suatu hari, ketika orang-orang sudah melewati rumahku untuk sekolah. Aku sendiri diam-diam mengikuti mereka dengan jarak yang lumayan jauh tapi tetap masih terlihat tanpa ibu mengetahuinya, tentu dengan berseragam sekolah juga. Seragam apa yang aku pakai? Ya seragam sekolah. Aku memakai baju punya kakak dan juga celananya, lebih tepatnya aku memakai rok perempuan. Karena setahu aku itulah seragam resmi sekolah, mau laki-laki atau perempuan, tapi itu dulu. Aku terus membuntuti mereka sampai berakhir di sekolah.
 
Tiba di sekolahan. Ada banyak orang termasuk siswa-siswi, guru, pedagang jajanan, ada pohon, tentu ada sekolahnya juga. Anehnya kenapa setiap orang yang memandangku selalu memberikan aku senyuman, lebih tepatnya menertawakan. Kakakku sendiri yang melihatnya juga memberikan tawa kepadaku. Apa yang salah dalam diriku?
 
  “Ni itu adik kamu?” Tanya seorang teman kakak yang tidak tahu namanya. Oh iya, nama kakakku itu Hanipah, siapa tahu kamu tidak mau tahu.
  “Eh, iya” Jawab kakak sambil menahan rasa malu. Kakak menghampiriku yang sedang terdiam.
  “Kenapa kamu kesini din?” Tanya kakak
  “Ya… kan, mau sekolah” Jawabku dengan polos.
  “Mending kamu pulang din, nanti kakak kantar sampai rumah ya”
 
Aku megikuti perintah kakak setelah di beri aku jajanan sekolah, sebelumnya aku menolak sampai mau menangis tapi kakak lebih dulu menawarkan jajanannya. Pada akhirnya aku hanya bisa pulang kembali di temani kakak sampai rumah. Jarak dari sekolah ke rumahku tidak terlalu jauh, sekitar setengah kilo meter. Dan kakak kembali ke sekolah untuk kemudian kembali lagi ke rumah setelah sekolah selesai, maksudnya jam sekolahnya sudah berakhir.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Rabu, 11 Januari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 5

 Dindin Rasdi     10.06     Novel Online     17 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

Tidak terasa sudah berada di hari Senin. Seperti biasanya setiap sekolah di Indonesia melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih, tidak lain merupakan bendera kebanggaan bangsa Indonesia. Sama seperti sekolah lainnya, di sekolah tempat Dindin, Encep, Junaedi, Asep, Oman, Sari, dan yang lainnya menuntut ilmu sepertinya, juga melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih.

Setelah upacara pengibaran bendera berakhir, semua murid sekolah memasuki kelas masing-masing. Junaedi lebih dulu masuk kelas di ikuti yang lainnya, maksudnya dia bukan orang pertama di sekolah yang masuk kelas, tapi orang pertama di kelasnya yang masuk kelas. Encep dan Dindin terakhir mengikutinya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukan keakraban antara Encep dan Juneadi, tidak seperti halnya teman yang lain. Beberapa menit berlalu, sekitar dua setengah menitan, Ibu Ani Sugiani Purnama Wijaya Kusuma yang biasa di panggil Ibu Endah yang tidak lain adalah Wali kelas mereka juga masuk kelas.

Sebelum pelajaran dimulai, Ibu endah melihat Junaedi yang wajahnya sedikit terlihat bekas babak belur, sama halnya juga Encep.

  “Apa mungkin mereka berkelahi?” Bisiknya dalam hati sambil menatap kearah Junaedi. “Sepertinya iya” Lanjutnya. “Jun, Cep sini” Ibu endah mengeluarkan suaranya, Junaedi dan Encep mengikuti perintahnya.
  “Kenapa kalian berdua ini? Berantem?”
  “Iya bu” Jawab Encep
  “biar apa? Mau jadi jagoan? Mau jadi orang yang berkuasa di kelas ini?”
  “Enggak bu, bukan apa-apa” Jawab Junaedi
  “Biasalah anak muda” Lanjut Encep
  “Biasa bagaimana?”
  “Jadi gini bu” Dindin menyerobot ke depan, mulai menjelaskan semua kejadiannya dengan volume suara sedikit nyaring, menyebabkan semua orang yang ada dikelas mendengarkannya. “Di hari Jumat, tepatnya di waktu jam istirahat, tepatnya ketika Encep di kantin, tepatnya di warung Bi Itoh, dan tepatnya lagi dia sedang memilih ciki berhadiah untuk di belinya. Kebetulan sekali Junaedi juga ada di warung Bi itoh, dan kebetulan juga dia sama mau memilih ciki berhadiah untuk di belinya juga. Disaat yang bersamaan ketika mereka sedang memilih ciki, ada satu ciki yang sempat mereka pegang…” Dindin berhenti sejenak untuk menghela napas.
  “Adeuh… Cie pegangan” Suara semua murid yang sedang duduk manis menyimak cerita Dindin, kecuali Sari kelihatannya dia hanya berdiam tanpa suara.
  “Dan merasa curiga kalau ciki itu memiliki sebuah hadiah di dalamnya. Junaedi sempat bertukar ciki yang di pegangnya, sampai akhirnya Encep memilih ciki yang di pegang Junaedi setelah sebelumnya berebutan untuk mendapatkan ciki yang di curigai. Junaedi tidak menerimanya dan terpaksa memilih ciki yang lain. Mereka membayar untuk ciki yang sudah mereka pilih, meninggalkan warung Bi itoh dan entah menuju kemana.” Lanjut Dindin.

Ibu Endah juga menyimak cerita di balik perkelahian yang di sampaikan Dindin, sampai mengerutkan dahi. Mungkin dia sedikit kurang percaya dengan ceritanya atau mungkin juga banyak.

  “kok bisa?” Tanya Ibu Endah dengan sedikit senyum yang manisnya, maksud dari pertanyaannya itu kenapa sampai bisa terjadi perkelahian?
  “Oke tenang bu, semuanya berawal dari sini” Jawab Dindin dengan sikap bagaikan seorang pemimpin yang memberi komando. Semua orang yang ada di kelas hening seketika, nampaknya mulai serius untuk menyimak lebih dalam lagi. Walaupun sebenarnya mereka sadar tidak akan keluar di soal ulangan dari cerita tersebut. “Ternyata ciki yang di pilih oleh Encep membuahkan hasil, yaitu sebuah ciki di dalamnya beserta hadiah berupa selembar uang yang di bungkus kertas wajit dengan nominal lima ribu rupiah. Tapi sayangnya Junaedi kurang beruntung, dan dia mengetahui kalau Encep berhasil mendapatkan hadiah dari ciki yang di perebutkannya, melalui pengintaian seorang Oman yang telah di tugaskan Junaedi”

Oman yang serius menyimak merasa bingung mungkin ia tidak merasa melakukan itu, tapi dia tidak mau protes. Terlihat wajah Junaedi tidak menunjukan kebencian terhadap Dindin yang terus bercerita di depan kelas, di depan Ibu Endah Juga. Malah dia hanya menggelengkan sedikit kepalanya di ikuti senyuman kecil. Berbeda dengan Encep, dia justeru lebih serius menyimak ceritanya di banding dengan orang yang lainnya bagaikan sedang menerima sebuah wasiat dari seseorang.

  “Tiba di hari Sabtu, sebelum Pak Jajang masuk, Junaedi yang baru masuk kelas menyerobot menuju Encep dan langsung memukul tepat di perutnya. Mereka berkelahi sementara, tidak ada yang berani memisahkan. Sebelumnya aku sempat memisahkan mereka, namun mereka tidak mau berpisah” Dindin berhenti sementara.
  “Oh… indahnya, oh… manisnya, romantis banget mereka” Itu si Opang yang bergumam.
Dengan reflek semua orang melirik ke arah Opang, terdiam beberapa detik untuk kemudian suasana berubah menjadi lebih asik, semuanya tertawa.
  “Orang-orang yang ada di kelas sebelum Pak Jajang masuk di hari Sabtu, mereka semuanya tahu. Jadi untuk ceritanya aku akhiri dengan ucapan terimakasih” 

Semua orang yang ada di kelas bersorak ramai, bertepuk tangan bagaikan sekumpulan orang panatik. Ibu Endah hanya bisa tersenyum melihat Dindin. Tidak sengaja Dindin melirik ke arah Ibu Endah yang sedang tersenyum kepadanya untuk membalaskan senyuman dengan senyum genit dan kedipan di mata kanannya.

  “Oke, oke, kamu bisa duduk kembali, terimakasih dengan ceritanya yang… sedikit” Kata Bu Endah kepada Dindin.
  “Sama-sama bu” Dindin berjalan menuju tempat duduknya.

Bu Endah berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sedikit ke tengah depan kelas, sambil membawa Encep dan Junaedi dengan cara memegang pundaknya. Mereka bertiga berdiri di depan kelas.

  “Apapun yang terjadi, Apapun masalahnya…”
  “Minumnya teh botol sosro bu” Seru si Cukong. Semuanya ketawa
  “Iya cukong. Pokoknya apapun itu, kalian itu gak boleh berantem, kalian itu satu tim, satu kelas, satu wali kelas, satu ketua murid, satu seksi keamanan, dan satu sekolah. Jadi kalian itu harusnya bersatu. Siap bersatu!” Ibu Endah menerangkan kepada semua siswa-siswinya.
  “Siap ibu!” Jawab semua siswa-siswi.
  “Ayo kalian berdamai!” Perintah ibu Endah kepada Encep dan Junaedi.

Encep dan Junaedi saling berhadapan, saling mengulurkan tangannya dan mengaitkan masing-masing jari kelingkingnya yang biasa mereka sebut pacantel. Ibu Endah sudah duduk di tempat duduknya.

  ”Coblos no tiga puluh tujuh” Kata Encep. Semuanya ketawa.
  “Kami dari The Virgin” Sambung Junaedi. Semuanya terus ketawa.

Pada akhirnya, mereka berhasil untuk berdamai. Mereka juga berjanji tidak akan berkelahi lagi dengan sesama teman kelasnya, kecuali dengan orang yang berani mengusik kedamaian kelas. Sekolah juga sama berakhir, maksudnya jam sekolah sudah berakhir karena tidak banyak kejadian yang seru untuk diceritakan.
Hari-hari terus berjalan diiringi kedamaian. Dua hari setelah perdamaian, Dindin menceritakan semuanya kepada Sari bersama Encep tanpa Junaedi, tentu cerita yang sebenarnya. Mulai dari mereka berdua menyukai Sari sampai di adakan lomba untuk mendapatkannya.

  “Haha… Emangnya aku ini apa” kata Sari dengan ketawa lepasnya.

Tapi mereka berhenti dalam berlomba dan memilih kerjasama tim setelah melihat Sari bersama Junaedi dan berpacaran. Mereka tidak iri sama Sari, hanya menambah rasa benci kepada Junaedi sampai yang menyebabkan ban motornya kempes dan bocor itu mereka. Sampai akhirnya berdamai untuk selamanya.

  “Oh.. Jadi kalian, pantesan aja” Timpal Sari.

Sari tidak marah, Sari tidak merasa benci kepada mereka, Sari juga bisa maklum, dan bisa meneruskan persahabatannya. Dalam suasana asik mengobrol datang Junaedi seorang diri, menghampiri mereka tepatnya menghampiri Sari.

  “Lagi pada ngapain?” Tanya Junaedi.
  “Lagi pada narik napas Jun” Jawab Dindin.
  “Ah biasa Jun, lagi ngeluarin napas” Sambung Encep
  “Oh….” Seru Sari
  “Kok kamu yang oh nya” Tanya Junaedi “Harusnya kan aku” Lanjutnya.
  “Udah, udah, gak usah sampai terjadi pertumpahan darah” Kata Dindin
  “Sar, Jun, kalian memang serasi” Kata Encep
  “Hehe” Sari tertawa kecil
  “Ya udah Jun, kami titipkan incarannya kepadamu. Jaga baik-baik” Kata Dindin

  “Siap, siap, gak usah di perintah. Itu sudah menjadi kewajiban Pak Iman untuk selalu menjaga” Jawab Junaedi. Semuanya ketawa.

Dindin dan Encep mengiklaskan incarannya, tidak lain ialah Sari. Mereka juga sedikit mengubah janjinya “JANGAN KE SATU KELAS” maksudnya bukan tidak boleh ke semua yang ada di satu kelas, tapi tidak boleh ke teman yang satu kelas.

~Bersambung~

Apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya? 



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Selasa, 10 Januari 2017

Mandi itu.

 Dindin Rasdi     21.01     Cerita Absurd     8 comments   

Mohon perhatian. Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, alangkah baiknya demi kebaikan kita bersama untuk sudah melakukan mandi. Kan biar cakeup seperti aku. Hm :3

Menurut aku sendiri, mandi itu sesuatu hal yang kecil tapi terkadang sangat susah untuk dilakukan. Kenapa coba? Terkadang rasa malas lebih dulu menghampiri dari pada keinginan.

Menurut pengamatan yang Dindin amati beberapa tahun berlalu, ada beberapa tipe manusia ketika mau melakukan mandi. Dan inilah tipe tipe manusia disaat mau melakukan mandi.

  1. Tipe bakal mandi kalau mau jalan, mandi itu tidak penting kalau tidak ada yang ngajakin jalan.
  2. Tipe harus nunggu badan bau, mandi itu tidak penting selama badan masih wangi.
  3. Tipe selalu menunda-nunda, mandi itu tidak penting disaat kesibukanmu menjadi prioritas.
  4. Tipe penuh perencanaan, mandi itu tidak penting disaat rencananya belum disusun secara matang.
  5. Tipe harus di suruh, mandi itu tidak penting ketika tidak ada yang nyuruh.
Nah itulah tipe-tipe manusia kalau mau melakukan mandi, kalian termasuk tipe yang mana gaes? Sudah! Untuk sekarang kamu tidak usah bingung atau pusing, kalau mau mandi ya mandi, kalau tidak ya tidak.

Inilah beberapa dampak yang akan di hasilkan setelah melakukan mandi; Mandi itu bisa membuat badan segar, mandi itu bisa membuat badan bersih, mandi itu juga akan membuat badan basah.

Mandi itu pilihan bukan paksaan, tapi terkadang kita butuh sedikit paksaan untuk melakukan mandi. Seperti halnya menembak gebetan, mandi juga butuh waktu untuk menunggu jawabannya, di terima atau tidak. Tapi mandi itu harus, karena itulah sebabnya ada kamar mandi.

Nonton video di bawah ini untuk selengkapnya.


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Senin, 02 Januari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 4

 Dindin Rasdi     17.54     Novel Online     18 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

 
Hari hari terus berlanjut, tanpa bisa di hentikan. Dindin menjalankan aktifitas sekolah seperti murid sekolah pada umumnya, sama halnya juga Encep. Pergi sekolah, belajar, istirahat, pulang sekolah, tanpa memikirkan Sari. Yang ada dalam pikiran mereka sudah bukan Sari lagi, Sari tetap milik orangtuanya hanya dia sudah jadi pacarnya Junaedi. Dindin sadar tidak akan mengganggu orang yang sudah mempunyai pacar, karena ia tahu bagaimana rasanya di ganggu ketika sedang mesra-mesranya. Itu sangat menyakitkan, sepertinya.
 
Tapi yang ada dalam pikiran Encep hanya memikirkan Junaedi. Apakah Encep jatuh hati kepada Junaedi? Oh jangan salah sangka dulu. Encep sangat membenci junaedi, selain merebut tempat duduknya disaat pertama masuk sekolah, melebihi tinggi badannya, dia juga merebut gebetan satu-satunya. Siapa lagi kalau bukan Sari yang ia lombakan bersama Dindin. Hanya memikirkan sebuah rencana yang ditujukan kepada Junaedi. Hasil kerjasama tim bersama Dindin.
 
Waktu istirahat, di hari Jumat. Encep pergi ke parkiran motor di ikuti Dindin yang bertujuan hanya untuk mencari motor milik junaedi. Setelah ketemu, Encep menusukan sebuah paku ke ban belakang motor Junaedi yang menyebabkan kempes dan bocor, sementara Dindin hanya mengempeskan saja ban depannya. Tidak ada yang melihatnya, walaupun seorang satpam karena Pak Iman sedang berada di posnya tidak tahu lagi ngapain, belum di tanya. Apalagi cctv, tidak ada cctv di parkiran motor. Setelah melakukannya, merekapun dengan santai dan wajah tanpa dosanya kembali menuju kelas.
 
Ketika pulang sekolah, tepatnya ketika orang-orang mengambil motornya di parkiran yang sebelumnya disimpan, Dindin melihat Junaedi sedang memeriksa ban motornya tentu bersama Sari. Encep yang berjalan bareng Dindin juga melihat Junaedi, hanya dia melihatnya dengan senyuman kecil. Junaedi melihatnya dengan hasil lirikan sana-sini, dia juga merasa curiga kalau Encep yang menyebabkan ban motornya kempes. Encep, Dindin, dan semua murid sekolah pulang seperti biasanya di hari Jumat yang pulang di jam lebih cepat dari hari selain Jumat. Junaedi juga meninggalkan sekolah bersama Sari, sambil mendorong motornya yang kempes ke lokasi tambal ban.
 
  “Kenapa motornya jang?” Tanya Pak Iman.
  “Ini pak kempes” Jawab Junaedi.
  “Oh.. tuh di pertigaan kan ada tambal ban”
  “Iya pak, ini juga mau kesana”
  “Mari pak” Sari bersuara.
  “Iya, iya, mari” Jawab Pak Iman.
 
Merekapun menuju lokasi tambal ban, dan menambal bannya. Sekitar lima belas menit selesai, Junaedi memberikan bayaran kepada tukang tambal ban. Mereka langsung pulang.
 
Besoknya, hari Sabtu, masih pagi. Encep dan Dindin sudah berada di kelas, tidak hanya mereka berdua teman-teman sekelasnya juga sudah berada di kelas tapi sebagian, Sari juga belum datang ke kelas. Tiba-tiba Junaedi datang bersama teman sebangkunya si Oman, menghampiri Encep dan langsung merangkul kerah bajunya di lanjut memukul perutnya dengan gaya kuda-kuda seolah-olah dia ahli bela diri. Mereka berdua berkelahi tanpa ada yang berani memisahkan, sebelumnya Dindin sempat memisahkan mereka.
 
  “Diam Din, ini perkelahian kami” Kata Encep dengan jiwa lakinya.
  “Iya Din” Junaedi ikut mengiyakan juga.
 “Oh siap Cep, Jun, dengan penuh hormat kami sekelas yang belum datang semuanya mendukung perkelahian ini sebagai acara pembukaan untuk belajar di hari ini” Seru Dindin seraya memimpin penghormatan kepada perkelahian mereka.
  “Makasih Din” Seru Oman.
 
Mereka terus berkelahi seperti pertarungan di game yang berkelahi. Semua murid kelas itu menontonnya sambil memberikan semangat bersorak yang tidak terlalu kencang supaya tidak terlihat dan terdengar ramai, karena kalau terlihat dan terdengar ramai semua murid sekolah pasti menuju kelas itu. Satu per satu murid yang belum datang akhirnya datang, begitu juga Sari. Dia melihat Encep dan Junaedi tepatnya pacarnya berkelahi, lalu Sari terdiam sesaat beberapa menit.
 
Pak jajang datang ke kelas dan melihat perkelahian, kesunyian menyelimutinya beberapa detik, Encep dan Junaedi berhenti sebentar untuk melihat Pak jajang.
 
  “Oh silakan lanjutkan saja, sampai ada pemenangnya” Kata Pak Jajang.
  “Tidak ah pak, malu sama bapak” Jawab Junaedi.
  “Tumben kamu punya rasa malu”
  “malu itu sebagian dari iman pak, kalau aku tidak punya rasa malu berarti aku gila”
  “Ya udah semuanya duduk di kursi masing-masing”
  “Siap bapak” Jawab semua murid kelas dengan gembira.
 
Pak Jajang itu adalah guru seni budaya yang mengajar setiap hari Sabtu di jam pertama. Semua murid duduk di kursinya masing-masing dan memulai pelajarannya. Bagaimana dengan Encep dan Junaedi? Mereka berdamai sementara.
 
Pelajaran pertama dan kedua berakhir, waktunya istirahat. Encep sedang makan batagor bersama Dindin di kantin tepatnya di tukang batagor, kemudian Junaedi menghampirinya bersama si Oman.
 
  “Wey broh” Sapa Junaedi.
  “Wey juga broh” Jawab Dindin.
  “Hah, bukan untuk kamu”
  “Apa Jun” Tanya Encep
  “Kita lanjutkan perkelahian tadi di luar sekolah”
  “Oh siap, dimana?”
  “Di belakang terminal”
 
Junaedi meninggalkan mereka, mereka juga meninggalkan kantin setelah menghabiskan batagor.
 
  “Eh Cep, Din bayar dulu!” Kata Bi Acah. Sekelas info: Bi Acah itu orang yang jualan batagor di kantin sekolah.
  “Oh… iya bi maaf lupa” Jawab Dindin dengan senyum manis “nih bi” lanjutnya
  “Nih bi” Encep juga membayarnya.
 
Mereka berhasil meninggalkan kantin setelah membayar batagor yang dimakannya untuk langsung ke kelas. Setelah semua pelajaran berakhir, sekolah juga ikut berakhir dan membubarkan semua siswa-siswinya dengan suara bel yang sangat dinantikan.
 
Encep dan Dindin menunggu di belakang terminal, sementara Junaedi sedang dalam perjalanan menuju belakang terminal. Mereka bertemu, saling pandang, dan Encep kelihatan sedikit gemetar, Dindin juga jantungnya deg degan, karena kalau tidak deg degan berarti mati. Junaedi datang bersama sekelompok anak kelas tiga yang biasa membuli anak kelas satu dan dua.
 
  “Bentar broh” Tanya Encep dengan gemetar.
  “Haah? Takut?” Jawab Junaedi.
  “Mau kencing dulu Jun”
 
Encep menghampiri pepohonan kecil dan langsung kencing seperti kuda. Selesai kencing dia menghadap Junaedi kembali dan langsung memukul tepat di wajahnya. Semua yang ada di sana, yang sedang menontonnya, bersorak ramai. Encep dan Junaedi melanjutkan perkelahiannya. Di saat berlangsungnya perkelahian ada seorang bapak melewati sekelompok anak sekolah yang menonton perkelahian itu.
 
  “Itu pisahin, jangan berkelahi” Kata seorang bapak yang lewat.
  “Lagi latihan karate pak” Jawab seorang anak kelas tiga, tidak tahu namanya, belum memberitahunya.
  “Oh yaudah hati-hati nak”
  “Iya siap pak”
 
Akhirnya perkelahian itu berakhir tanpa ada pemenang, keduanya babak belur, wajahnya di penuhi bekas pukulan. Junaedi di hampiri anak kelas tiga, Encep di hampiri Dindin.
 
  “Kuat juga ya kamu” Kata salah seorang anak kelas tiga kepada Encep.
  “Yoi” Jawab Encep dengan rasa sakit di wajahnya
 
Kelompok anak sekolah itu semuanya bubar, setelah perkelahian yang tidak membuahkan hasil selesai. Encep pulang bersama Dindin. Junaedi pulang bersama Oman. Anak kelas tiga pulang bersama.
 
~Bersambung~

Apa yang akan dilakukan Encep dan Dindin setelah perkelahian? Tunggu kelanjutannya di postingan selanjutnya yah...
 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

FOLLOW ME, OK!

  • Twitter Facebook Instagram Google Plus Youtube Channel

POSTINGAN POPULER

  • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Beberapa hari setelah merelakan Sar...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 4
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya.   Hari hari terus berlanjut, tanpa ...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 5
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Tidak terasa sudah berada di hari S...

Arsip Blog

  • ▼  2017 (8)
    • ►  September (1)
    • ►  Februari (3)
    • ▼  Januari (4)
      • Ingin Sekolah.
      • CINTA-CINTAAN | Episode 5
      • Mandi itu.
      • CINTA-CINTAAN | Episode 4
  • ►  2016 (18)
    • ►  Desember (12)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)

Copyright © dindinrasdi