dindinrasdi

  • Home
  • Dindinrasdi
  • Tutorial
  • Cerita Absurd
  • Novel Online
  • Sekelas Infoh

Senin, 04 September 2017

Dialah Jon! #1

 Dindin Rasdi     22.08     Novel Online     1 comment   


Pagi itu yang dingin, seolah membuktikan julukan Kota Bandung. Teman kerjaku, dua orang perempuan, Teh Ami dan Evi, sudah ada di depan kantor menunggu aku membukakan pintu dari dalam, karena memang di kunci dari dalam. Bukannya aku rajin, sudah berada dikantor sebelum mereka. Tapi, aku memang tinggal dikantor. Karena sudah disediakan satu kamar khusus untukku sebagai penunggunya. Aku membuka pintu.

“Selamat pagi Dindin, nih ada teman baru buat kamu” kata Teh Ami. Aku kira, teman baru itu siapa, Teman hidup kah? Karyawan baru kah? Ternyata dia membawa seekor anak kucing kampung berwarna kuning kecoklatan, untuk dijadikan hewan peliharaan di kantor ini. Dia memang sudah berjanji dari beberapa hari yang lalu untuk membawa kucing, dan baru hari inilah dia menepatinya.

Teh Ami dapat kucing itu dari temannya yang aku tidak tahu siapa namanya dan tidak mau tahu sama sekali. Kucing itu di beri nama Lolita, karena dia perempuan. Tapi dia sering di panggil dengan sebutan Mpus. Tidak lama dari kedatangan Mpus, aku keluar menggunakan sepeda motor untuk mencari sarapan sekaligus untuk makan siang ditemani Evi. Kebetulan dia juga mau membeli makan untuk makan siang, menuju warteg yang sudah menjadi langgananku. Tiba disana aku melihat seekor kucing yang lumayan bagus, seperti belasteran antara kucing anggora dan kucing kampung.

“Bi, itu kucing punya siapa bi?” tanyaku kepada bibi pemilik warteg.
“Oh kucing itu, ambil aja De” Jawabnya
“Beneran bi, ini teh?”
“Bener, lagian kasian disini juga gak ada yang melihara”
“Oke, aku bawa yah bi”

Aku kembali ke kantor dengan membawa makanan yang sudah di beli dari warteg dan seekor kucing yang berwarna abu-abu.

"Wah kayanya Teh Ami bakal suka sama kucing ini, soalnya ini bagus, gak kaya si Mpus." kataku pada Evi.
"Iya, bagus ya Din, ini baik di elus-elus juga" Jawab Evi

Sampai dikantor, Teh Ami lagi ngasih makan si Mpus karena ingin. Melihat Evi bawa kucing baru yang kelihatannya bagus, dia langsung mengalihkan perhatiannya. Kebetulan kucing yang baru itu juga langsung nyamperin Teh Ami, tepatnya nyamperin si Mpus yang lagi makan. Teh Ami tidak pelit, dia juga langsung memberi makan.

“Mau dikasih nama siapa Din?” Kata Teh Ami
“Hmm siapa yah” aku berpikir dengan serius “JON!” lanjutku
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Selasa, 21 Februari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 7

 Dindin Rasdi     17.32     Novel Online     6 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

 Setelah Encep berhasil juga berkenalan dengan Melisa, mereka langsung segera meninggalkan kantin dengan tidak lupa untuk membayar batagornya yang sudah di makan karena tidak mau mereka dianggap tidak mampu hanya untuk membayar batagor saja. Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi, seperti biasanya semua murid yang masih diluar kelas segera memasuki kelasnya masing-masing kecuali Dindin dan Encep karena mereka sudah berada di kelas sebelum bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.
 
Sekolah berakhir untuk hari ini dan di lanjutkan lagi besok pagi. Semua murid sekolah berbondong-bondong keluar sekolah. Sambil berjalan menuju gerbang masuk atau keluarnya murid sekolah, Dindin masih terus bertanya dengan penasaran mengenai seorang cewek yang sewaktu istirahat berhasil di ajak berkenalan dengan Encep. Sayangnya Encep tidak mau memberitahukan sepenggal hurufpun kepada Dindin mengenai nama seorang cewek itu.
 
Ketika sudah berada di parkiran atau lokasi untuk mengambil kembali semua kendaraan bermotor yang di simpan oleh pemiliknya dan lokasi yang pasti dilalui oleh setiap orang kalau mau masuk atau keluar sekolah, tidak sengaja Dindin melihat Melisa bersama teman sekelasnya dan langsung pelan-pelan menghampirinya dengan mengabaikan Encep yang terus berjalan lurus.
 
“Hey Melisa” Sapa Dindin.
“Hey Dindin” Jawab Melisa.
“Hey Melisa” Sapa Encep yang tidak diketahui Dindin sudah berada disampingnya.
“Loh ko kamu kenal dia?” Tanya Dindin ke Encep.
“Kenal dong, tadikan sudah kenalan”
“Oh… jadi Melisa yang kamu ajak kenalan tadi itu”
“Iya Melisa” Jawab Encep “Cantik yah Din” lanjutnya dengan berbisik ke arah telinga Dindin.
“Oh pastilah”
“Lah kamu juga kenal sama Melisa?”
“Kenal dong”
“Aku duluan yah” Kata Melisa kepada Dindin dan Encep yang sedang asik mengobrolkan dirinya.
“Iyah… Mel, iyah… Sa” Jawab kompak mereka. “Eh” Lanjutnya sambil garuk-garuk kepala.
 
Melisa dan temannya yang belum dikenal pergi meninggalkan mereka, meninggalkan sekolah, meninggalkan kantin, meninggalkan Pak Iman, dan meninggalkan yang lainnya untuk kembali lagi kerumah. Semetara Dindin dan Encep, sempat mengikuti Melisa diam-diam sampai dia menaiki angkot yang berbeda jurusan. Sampai mengetahui arah pulang Melisa yang ternyata terbalik dengan arah pulang Dindin dan Encep.
 
“Iya Mel aku juga suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?”
“Iya mau banget Cep”
 
“Encep! Kamu mau sekolah gak?” Bentak ibunya Encep yang menyuruh bangun, karena hari sudah lumayan siang untuk jam berangkat sekolah. Oh ternyata hari sudah berganti. “Aduh ternyata hanya mimpi” Gumam Encep “Kenapa sih, si emak malah bangunin, lagi asik-asiknya nih. Kan gak bisa dilanjut lagi” lanjutnya. Encep segera bergegas menuju kamar mandi dengan lupa tidak membawa handuk.
 
“Mak bisa ambilin handuk Encep mak?”
“Nih” Ibunya Encep memberikan handuk “Makanya mandi itu bawa handuk, cepat mandinya!” Lanjutnya dengan nada sedikit marah.
 
Encep berangkat sekolah dengan tergesa-gesa sampai melupakan sarapannya untuk hari ini, pikirnya mungkin “tidak apa-apa lupa dengan sarapan yang penting asal jangan lupa sama kamu aja, Melisa”. Sesampai di depan gerbang sekolah, gerbangnya sudah di kunci sama Pak Iman. Encep kesiangan beberapa menit. Rupanya bukan hanya Encep yang kesiangan, ada dua orang kelas tiga, satu orang kelas dua, dan satu orang lagi Dindin teman sebangkunya.
 
“Eh Cep, kirain kamu sudah berangkat, tak tahunya sama kesiangan” Tanya Dindin
“Iyah Din, soalnya ingat terus sama Melisa”
“Lah apa hubungannya dengan kesiangan?”
“Tadi aku nembak dulu Melisa dan langsung mau nerimanya”
“Hmm”
“Tapi sayang emakku keburu bangunin mimpi indahnya”
“Hahaha” Dindin ketawa sendiri dengan puas sampai tidak memperhatikan orang lain disekitarnya.
 
Semua orang yang kesiangan sontak mengalihkan pandangannya kepada Dindin seorang. Dengan begitu wajah Dindin dikenali oleh dua anak kelas tiga yang wajahnya terlihat sangar dimata Dindin. Begitu juga Pak Iman yang baru datang untuk melihat orang-orang yang kesiangan untuk memberikan sanksi.
 
“Kamu yah, udah kesiangan bahagia pula” Kata Pak Iman
“Awali hidup ini dengan sebuah kebahagian pak”
“Terserah kamu aja! Mau pulang lagi atau mau masuk”
“Masuklah Pak”
“Ya sudah, tapi harus di beri hukuman dulu”
 
Semua yang kesiangan dimasukan kesekolah oleh Pak Iman tapi dengan di beri hukuman terlebih dahulu. Dindin terlihat senang, sama halnya dengan Encep. Namun tidak berlaku bagi kedua orang kelas tiga, mereka terlihat kesal kepada Dindin dan sepertinya mempunyai niat jahat. Orang-orang yang kesiangan disuruh ke lapangan yang ada disekolah, lapangan yang biasa dipakai upacara di hari Senin, lapangan yang biasa dipakai olahraga sewaktu pelajaran olahraga atau jam istirahat, dan lapangan yang dipakai untuk mengumpulkan semua murid sekolah ketika ada pengumuman mendesak.
 
Mereka di beri hukuman berupa jalan bebek mengelilingi lapangan selama tiga puluh keliling oleh Pak Iman. Wajah senang yang ditunjukan Dindin dan Encep berubah drastis menjadi sebuah kekesalan kepada Pak Iman, tapi kekesalan kedua anak kelas tiga tetap ditujukan kepada Dindin. Setelah mengakhiri tiga puluh keliling lapangan jalan bebek, mereka semua sangat kelelahan. 
 
“Mau kesiangan lagi gak?” Seru Pak Iman.
“Nggak Pak!” Jawab semuanya.
“Ya udah tunggu disini sampai jam pelajaran pertama berakhir! Jangan kemana-mana tetap ditengah lapangan, bapak lihat kalian dari sana”
 
Pak Iman meninggalkan lapangan untuk menuju lokasi yang teduh dan memantau orang-orang yang sedang dihukumnya.
 
“Kamu yah, kanapa malah masuk, bukannya pulang lagi kan enak gak kena hukuman” Kata salah satu anak kelas tiga kepada Dindin.
“Hehe, kan mau sekolah kak” Jawab Dindin.
 
Hukuman berakhir ketika bel pelajaran kedua berbunyi. Mereka terlihat begitu gembira bagaikan seseorang yang mendapatkan hadiah mobil dari undian kuis tanpa pungutan pajak. Semua yang kena hukuman diperbolehkan masuk kelasnya masing-masing meninggalkan Pak Iman seorang. Pak Iman tidak merasa kesepian setelah di tinggalkan oleh mereka, dia langsung menuju pos gerbang sekolah untuk melakukan tugas seperti biasanya.
 
“Awas yah kamu” Kata anak kelas tiga kepada Dindin.
“Hehe” Jawab Dindin dengan senyuman kecil.
 
Dindin dan Encep memulai belajarnya untuk hari ini dari jam pelajaran kedua yaitu Bahasa Inggris, di lanjutkan dengan jam istirahat. Encep diam-diam meninggalkan Dindin tepat beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi untuk menuju ke kelas 10c yang tidak lain adalah kelas tempat Melisa belajar di sekolah.
 
“Eh Din, ko ada disini” Kata Encep tepat setelah sampai di depan kelas 10c.
“Kan mau ketemu sama Melisa”
“Wahh.. kamu suka yah sama Melisa” Bisik Encep dengan wajah cemburu.
“Ya iyalah”
“Yaudah kita bersaing lagi, kali ini untuk Melisa”
 
Ketika asik mengobrolkan Melisa di depan kelasnya, tidak sengaja Melisa lewat di belakang Dindin dan Encep dan mendengar namanya di sebutkan dalam percakapannya.
 
“Ehm…”
“Ehm juga” Jawab Encep.
“Ehm… Ehm…”
“Ehm… Ehm… juga” Jawab Dindin.
“Siapa sih, ganggu ajah” Kata Encep sambil melirik kebelakang “Eh Melisa, hehe”
“Sepertinya kalian lagi ngomongin aku yah”
“Iyah nih, sini gabung” Kata Dindin.
“Boleh nih gabung?”
“Apapun buat kamu gak ada yang gak boleh”
“Hehe”
 
Mereka bertiga akhinya bergabung dalam satu kumpulan perbincangan mengenai Melisa, namun sejak Melisa bergabung hanya keheningan yang di dapat oleh Melisa. Dindin dan Encep malah fokus untuk menatap wajah Melisa yang ada dihadapannya.
 
~Bersambung~
Jangan lupa komentarnya yah, biar semangat untuk lanjut nulisnya. Heuheu
 
 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Jumat, 03 Februari 2017

Cara membuka Google

 Dindin Rasdi     15.31     Tutorial     No comments   

 
 
Siapa sekarang yang tidak tahu google? Paling orang pedalaman yang jauh dengan teknologi. Sudah tidak asing lagi nama google di kalangan anak-anak sampai orang tua di berbagai negara akhir-akhir ini. Tidak heran kalau apapun bisa kamu cari di google, kecuali mungkin pasangan hidup.
 
Untuk postingan kali ini aku akan kasih tau cara membuka google bagi pemula atau bagi orang yang pertama kali mendengar kata google dan ingin mengetahuinya. Google adalah salah satu search engine yang sangat popular di dunia yang di ciptakan oleh sebuah manusia. Oke langsung saja, inilah cara membuka google. Sebelum membukanya, kamu harus tahu kalau kamu masih hidup.
 
  • Pertama. Kamu di haruskan sudah punya smartphone atau laptop atau pc atau gadget lainnya.
  • Kedua. Di pastikan gadgetnya sudah terhubung ke jaringan Internet.
  • Ketiga. Jangan lupa kamu harus punya kuota internet. Percuma saja kalau gadgetnya sudah terhubung ke jaringan internet tapi tidak ada kuota sama sekali. Kamu bisa membeli terlebih dulu kuotanya atau meminta sumbangan kuota dari saudara, teman, atau sejenis manusia lainnya yang berbaik hati.
  • Keempat. Kamu hanya tinggal mencari aplikasi browser di gadgetmu bisa itu Mozila Firefox, Google Crome, Internet Explore, UC browser, Operamini, dan lainya. Setelah ketemu buka aplikasinya. Kalau kamu tidak punya aplikasinya kamu bisa install terlebih dulu di gadgetmu.
  • Kelima. Cari address bar di aplikasi browsemu, setelah ketemu ketikan www.google.com. Tunggu sampai gambar google muncul dan selamat kamu telah berhasil membuka google. Kamu bisa cari apapun disitu, ingat kecuali mungkin kamu tidak akan bisa mencari pasangan hidup di google.
Nah begitulah cara membuka google bagi pemula. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Semoga kamu sehat selalu, panjang umur sepanjang jalan kenangan, dan sudah mandi.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Kamis, 02 Februari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 6

 Dindin Rasdi     16.44     Novel Online     19 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

Beberapa hari setelah merelakan Sari dengan Junaedi, sepertinya Dindin dan Encep sedikit kehilangan penyemangat dalam hidupnya untuk pergi ke sekolah. Namun Encep tetap sekolah karena dia sadar, kalau tidak sadar dia pasti sudah berada di rumah sakit. Maksudnya dia sadar kalau dia tidak sekolah dia mau ngapain di rumah, juga tidak dapat uang jajan dari orang tuanya. Sedangkan Dindin selalu berusaha mengajak Encep untuk bolos sekolah akhir-akhir ini. Sesekali Encep menolaknya sampai kemudian dia menyetujuinya.
 
  “Tapi aku hanya menemani saja ya Din” Kata Encep setelah berhasil di bujuk Dindin.
  “Iya Encep, iya”
 
Untuk pertama kalinya bolos sekolah, mereka hanya bisa diam di warung kecil dekat terminal. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali hanya melihat kendaraan yang melewatinya sesekali menghitung jumlah mobil angkot.
 
  “Enam belas, Sembilan belas..” Gumam Dindin.
  “Oh iya” Encep menepuk bahu Dindin dengan tangannya.
  “What, what, ada apa cep?” Dindin terlihat kaget dan kemudian di ikuti dengan perasaan gelisah.
  “Gimana kalau kita naik angkot ke terminal Ratupulo, terus sesudah sampai disana kita bengong lagi disana” Sekilas info: Ratupulo itu adalah sebuah terminal, dan mereka sekarang sedang berada di terminal Ciaren yang biasa dilewati ketika mau pergi dan pulang sekolah.
  “Disana bengong, disini juga bengong”
  “yaudah kalau gitu jangan langsung bengong pas sudah sampai disana, kita nyari angkot lagi yang menuju ke terminal Ciaren, kita balik lagi kesini”
  “Hm.. boleh juga, ya udah ayo!”
 
Begitulah mereka untuk hari ini, hanya bisa bolos sekolah dan tidak melakukan apapun selain bolak-balik dari terminal Ciaren ke terminal Ratupulo sampai akhirnya pulang lebih awal ke rumahnya masing-masing.
 
Besok paginya Hari Rabu tidak bolos lagi, mereka pergi ke sekolah walau dengan kekurangan semangat. Bertemu dengan teman-temannya, gurunya, Bi Acah, Bi Itoh, dan yang lainnnya membuat suasana mereka tetap sama. Sepertinya Encep sudah lebih dulu pergi ke kelas. Ketika Dindin berjalan sendirian hendak menuju kelas, dia bertemu dengan Junaedi, Junaedi langsung menyapanya.
 
  “Kemarin kemana Din? Gak masuk?” Tanya Junaedi.
  “Gak masuk apa Jun?”
  “Gak masuk sekolah lah, masa masuk penjara”
  “Oh… Enggak kemana-mana Jun, lagi males sekolah aja” Jawab Dindin dengan datar. “Enggak ada penyemangatnya” Lanjutnya dengan pelan namun tetap terdengar oleh Junaedi.
  “Ya udahlah” Junaedi menepuk bahunya “Go Dindin go Dindin go!” Seru Junaedi dengan kencang dan penuh semangat.
  “Ha ha ha” Dindin tertawa dengan sengaja membalas pengorbanan Junaedi yang telah berusaha menyemangatinya.
  “Oh iya Din, nih ada cewek cantik di kelas 10c namanya itu Melisa”
  “Iya Jun makasih” Dindin meninggalkan Junaedi begitu saja untuk langsung menuju kelas.
 
Pelajaran pertama di buka dengan pelajaran matematika, oh Dindin sangat tidak menyukai pelajaran matematika begitu juga Encep. Nampaknya mereka benar-benar seperti sudah berkompromi untuk tidak menyukai matematika. Tapi tidak tahu kalau Asep keliatannya dia begitu serius memperhatikan Pak Somad yang juga serius menerangkan di depan semua murid.
 
  “Oke ada yang mau di tanyakan?” Pak Somad mengajukan pertanyaan kepada semua murid setelah selesai menerang satu soal matematika. “Iya kamu? Kenapa?” lanjut Pak Somad yang melihat Dindin mengacungkan tangannya.
  “Ijin ke WC pak” Kata Dindin
  “Oh ya udah, jangan lama!”
 
Dindin meninggalkan teman sebangkunya yaitu Encep dan juga teman sekelasnya beserta Pak somad. Setelah Dindin keluar dari kelas, sepertinya tidak ada yang menanyakan apapun kepada Pak Somad tentang pelajaran yang ia terangkan. Lantas Pak Somad tidak bersedih dan melanjutkan kembali menerangkan soal berikutnya. Ternyata Dindin tidak pergi ke wc sebagaimana yang telah ia ucapkan kepada Pak Somad, tetapi dia malah pergi ke arah menuju kelas 10c. Benar Dindin memang pergi menuju kelas 10c dan langsung mengetuk pintunya yang tertutup. Tepat di ketukan ke tiga seseorang membukanya.
 
  “Anu... ada yang namanya Melisa bu?” Dindin langsung bertanya.
  “Oh ada, ada apa yah?” Jawab ibu guru yang membuka pintunya, tapi tidak tahu siapa namanya.
  “Itu kata Pak kepala sekolah di tunggu di kantor, sekarang”
 
Ibu guru menyuruh kepada murid kelas 10c yang namanya Melisa untuk keluar sesuai dengan apa yang telah Dindin bilang. Melisa merasa dirinya terlihat orang yang bersalah ketika mendengar ibu guru menyuruhnya keluar di karenakan Pak kepala sekolah mau bertemu. Setelah menutup pintunya dari luar, Melisa hanya melihat seorang lelaki yang bukan Pak kepala sekolah melainkan seseorang yang ia kenal tapi tidak tahu namanya.
 
  “hay?” Sapa Dindin
  “hay, siapa yah?”
  “Oh belum kenal yah, yaudah kenalan dulu” Dindin menyodorkan tangannya untuk bersalaman “Dindin” Lanjutnya
  “Me..”
  “Melisa kan?”
  “Loh ko tahu nama ku, Oh kamu yah Bapak kepala sekolahnya!”
  “Hehe… salam kenal yah”
 
Mereka berhasil dengan sukses berkenalan. Melisa kembali lagi ke kelas untuk melanjutkan belajarnya yang entah belajar apa dengan perasaan damai, begitu juga Dindin kembali untuk pelajaran matematikanya. Selesai Matematika, di lanjut dengan pelajaran IPS, di lanjut lagi dengan suara bel yang sangat di nantikan selain bel pulang sekolah. Iya benar sekali, bel peringatan untuk istirahat berbunyi, semua murid langsung keluar dari kelasnya tanpa di suruh lagi oleh bapak/ibu gurunya.
 
Di depan toilet laki-laki, Encep melihat sekumpulan anak kelas tiga ketika hendak mau pergi ke kantin tentu bersama Dindin. Encep mengenali salah satu dari anak kelas tiga tersebut, tapi tidak tahu namanya di karenakan belum sempat untuk berkenalan. Sesampainya di kantin, seperti biasa mereka memesan terlebih dahulu di lanjut dengan menunggunya, sebelum bisa menyantap batagornya.
 
Ketika asik mengobrol sambil menyantap batagor, Encep tidak sengaja melirik ke arah dua orang cewek yang sama sedang di kantin. Dengan gesit Encep langsung mendekati kedua cewek tersebut dengan meninggalkan Dindin yang fokus untuk menghabiskan batagornya.
 
  “Hmm” Encep menyapanya sambil mencolek sedikit bahu cewek itu.
  “Eh” Jawabnya dengan kaget.
  “Kamu Nina kan?”
  “Eh, bukan”
  “Lah, terus siapa kalau bukan Nina?”
  “Aku Melisa”
  “Oh, hay Melisa?”
  “Hay juga” Jawab Melisa dengan heran “Siapa yah?” Lanjutnya.
  “Oh iya, belum kenalan yah” Encep mengulurkan tangannya untuk bersalaman “Encep” tapi Melisa tidak mau bersalaman.
  “Hmm, aku duluan yah” Melisa meninggalkan Encep begitu saja.
  “Eh, kamu kelas mana?” Cetus Encep dengan sedikit menghampiri Melisa.
  “10c” Jawabnya dengan singkat sambil terus menjauh meninggalkan Encep untuk pergi ke kelas, mungkin.
 
Kelihatannya Encep begitu senang ketika kembali menghampiri Dindin seorang yang sudah hampir menghabiskan batagor.
 
  “Dari mana Cep?” Tanya Dindin
  “Tadi ada cewek cantik Din, ya udah aku samperin”
  “Ah anjir kamu gak ajak-ajak, kirain kemana”
  “Cantik Din euy”
  “kelas mana? Siapa namanya?”
  “...“
 
~Bersambung~
Jangan lupa komentarnya yah, biar semangat untuk lanjut nulisnya. Heuheu
 
 


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Selasa, 17 Januari 2017

Ingin Sekolah.

 Dindin Rasdi     22.54     Cerita Absurd     14 comments   

Aku masih mengingatnya, tapi aku lupa waktu itu aku berumur berapa, pokoknya waktu itu aku masih kecil, masih belum sekolah, aku sangat ingin sekali pergi untuk sekolah. Di sebabkan, setiap hari, setiap pagi, aku sering melihat orang-orang yang melewati rumahku untuk pergi sekolah dengan memakai seragamnya kecuali hari minggu dan tanggal merah lainnya. Lebih tepatnya aku penasaran ada apa selama ini orang-orang selalu pergi sekolah. Kakakku sendiri, kakak perempuan, waktu itu masih sekolah SD atau Sekolah Dasar, mau pergi sekolah dan aku juga melihatnya. Aku sempat menangis merengek kepada ibu untuk bisa ikut sekolah bersama kakak, tapi ibu tidak memperbolehkannya. Hanya memberikan beberapa uang receh untuk membuat berhenti menangis dan membuat aku senang.
 
Sampai suatu hari, ketika orang-orang sudah melewati rumahku untuk sekolah. Aku sendiri diam-diam mengikuti mereka dengan jarak yang lumayan jauh tapi tetap masih terlihat tanpa ibu mengetahuinya, tentu dengan berseragam sekolah juga. Seragam apa yang aku pakai? Ya seragam sekolah. Aku memakai baju punya kakak dan juga celananya, lebih tepatnya aku memakai rok perempuan. Karena setahu aku itulah seragam resmi sekolah, mau laki-laki atau perempuan, tapi itu dulu. Aku terus membuntuti mereka sampai berakhir di sekolah.
 
Tiba di sekolahan. Ada banyak orang termasuk siswa-siswi, guru, pedagang jajanan, ada pohon, tentu ada sekolahnya juga. Anehnya kenapa setiap orang yang memandangku selalu memberikan aku senyuman, lebih tepatnya menertawakan. Kakakku sendiri yang melihatnya juga memberikan tawa kepadaku. Apa yang salah dalam diriku?
 
  “Ni itu adik kamu?” Tanya seorang teman kakak yang tidak tahu namanya. Oh iya, nama kakakku itu Hanipah, siapa tahu kamu tidak mau tahu.
  “Eh, iya” Jawab kakak sambil menahan rasa malu. Kakak menghampiriku yang sedang terdiam.
  “Kenapa kamu kesini din?” Tanya kakak
  “Ya… kan, mau sekolah” Jawabku dengan polos.
  “Mending kamu pulang din, nanti kakak kantar sampai rumah ya”
 
Aku megikuti perintah kakak setelah di beri aku jajanan sekolah, sebelumnya aku menolak sampai mau menangis tapi kakak lebih dulu menawarkan jajanannya. Pada akhirnya aku hanya bisa pulang kembali di temani kakak sampai rumah. Jarak dari sekolah ke rumahku tidak terlalu jauh, sekitar setengah kilo meter. Dan kakak kembali ke sekolah untuk kemudian kembali lagi ke rumah setelah sekolah selesai, maksudnya jam sekolahnya sudah berakhir.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Rabu, 11 Januari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 5

 Dindin Rasdi     10.06     Novel Online     17 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

Tidak terasa sudah berada di hari Senin. Seperti biasanya setiap sekolah di Indonesia melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih, tidak lain merupakan bendera kebanggaan bangsa Indonesia. Sama seperti sekolah lainnya, di sekolah tempat Dindin, Encep, Junaedi, Asep, Oman, Sari, dan yang lainnya menuntut ilmu sepertinya, juga melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih.

Setelah upacara pengibaran bendera berakhir, semua murid sekolah memasuki kelas masing-masing. Junaedi lebih dulu masuk kelas di ikuti yang lainnya, maksudnya dia bukan orang pertama di sekolah yang masuk kelas, tapi orang pertama di kelasnya yang masuk kelas. Encep dan Dindin terakhir mengikutinya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukan keakraban antara Encep dan Juneadi, tidak seperti halnya teman yang lain. Beberapa menit berlalu, sekitar dua setengah menitan, Ibu Ani Sugiani Purnama Wijaya Kusuma yang biasa di panggil Ibu Endah yang tidak lain adalah Wali kelas mereka juga masuk kelas.

Sebelum pelajaran dimulai, Ibu endah melihat Junaedi yang wajahnya sedikit terlihat bekas babak belur, sama halnya juga Encep.

  “Apa mungkin mereka berkelahi?” Bisiknya dalam hati sambil menatap kearah Junaedi. “Sepertinya iya” Lanjutnya. “Jun, Cep sini” Ibu endah mengeluarkan suaranya, Junaedi dan Encep mengikuti perintahnya.
  “Kenapa kalian berdua ini? Berantem?”
  “Iya bu” Jawab Encep
  “biar apa? Mau jadi jagoan? Mau jadi orang yang berkuasa di kelas ini?”
  “Enggak bu, bukan apa-apa” Jawab Junaedi
  “Biasalah anak muda” Lanjut Encep
  “Biasa bagaimana?”
  “Jadi gini bu” Dindin menyerobot ke depan, mulai menjelaskan semua kejadiannya dengan volume suara sedikit nyaring, menyebabkan semua orang yang ada dikelas mendengarkannya. “Di hari Jumat, tepatnya di waktu jam istirahat, tepatnya ketika Encep di kantin, tepatnya di warung Bi Itoh, dan tepatnya lagi dia sedang memilih ciki berhadiah untuk di belinya. Kebetulan sekali Junaedi juga ada di warung Bi itoh, dan kebetulan juga dia sama mau memilih ciki berhadiah untuk di belinya juga. Disaat yang bersamaan ketika mereka sedang memilih ciki, ada satu ciki yang sempat mereka pegang…” Dindin berhenti sejenak untuk menghela napas.
  “Adeuh… Cie pegangan” Suara semua murid yang sedang duduk manis menyimak cerita Dindin, kecuali Sari kelihatannya dia hanya berdiam tanpa suara.
  “Dan merasa curiga kalau ciki itu memiliki sebuah hadiah di dalamnya. Junaedi sempat bertukar ciki yang di pegangnya, sampai akhirnya Encep memilih ciki yang di pegang Junaedi setelah sebelumnya berebutan untuk mendapatkan ciki yang di curigai. Junaedi tidak menerimanya dan terpaksa memilih ciki yang lain. Mereka membayar untuk ciki yang sudah mereka pilih, meninggalkan warung Bi itoh dan entah menuju kemana.” Lanjut Dindin.

Ibu Endah juga menyimak cerita di balik perkelahian yang di sampaikan Dindin, sampai mengerutkan dahi. Mungkin dia sedikit kurang percaya dengan ceritanya atau mungkin juga banyak.

  “kok bisa?” Tanya Ibu Endah dengan sedikit senyum yang manisnya, maksud dari pertanyaannya itu kenapa sampai bisa terjadi perkelahian?
  “Oke tenang bu, semuanya berawal dari sini” Jawab Dindin dengan sikap bagaikan seorang pemimpin yang memberi komando. Semua orang yang ada di kelas hening seketika, nampaknya mulai serius untuk menyimak lebih dalam lagi. Walaupun sebenarnya mereka sadar tidak akan keluar di soal ulangan dari cerita tersebut. “Ternyata ciki yang di pilih oleh Encep membuahkan hasil, yaitu sebuah ciki di dalamnya beserta hadiah berupa selembar uang yang di bungkus kertas wajit dengan nominal lima ribu rupiah. Tapi sayangnya Junaedi kurang beruntung, dan dia mengetahui kalau Encep berhasil mendapatkan hadiah dari ciki yang di perebutkannya, melalui pengintaian seorang Oman yang telah di tugaskan Junaedi”

Oman yang serius menyimak merasa bingung mungkin ia tidak merasa melakukan itu, tapi dia tidak mau protes. Terlihat wajah Junaedi tidak menunjukan kebencian terhadap Dindin yang terus bercerita di depan kelas, di depan Ibu Endah Juga. Malah dia hanya menggelengkan sedikit kepalanya di ikuti senyuman kecil. Berbeda dengan Encep, dia justeru lebih serius menyimak ceritanya di banding dengan orang yang lainnya bagaikan sedang menerima sebuah wasiat dari seseorang.

  “Tiba di hari Sabtu, sebelum Pak Jajang masuk, Junaedi yang baru masuk kelas menyerobot menuju Encep dan langsung memukul tepat di perutnya. Mereka berkelahi sementara, tidak ada yang berani memisahkan. Sebelumnya aku sempat memisahkan mereka, namun mereka tidak mau berpisah” Dindin berhenti sementara.
  “Oh… indahnya, oh… manisnya, romantis banget mereka” Itu si Opang yang bergumam.
Dengan reflek semua orang melirik ke arah Opang, terdiam beberapa detik untuk kemudian suasana berubah menjadi lebih asik, semuanya tertawa.
  “Orang-orang yang ada di kelas sebelum Pak Jajang masuk di hari Sabtu, mereka semuanya tahu. Jadi untuk ceritanya aku akhiri dengan ucapan terimakasih” 

Semua orang yang ada di kelas bersorak ramai, bertepuk tangan bagaikan sekumpulan orang panatik. Ibu Endah hanya bisa tersenyum melihat Dindin. Tidak sengaja Dindin melirik ke arah Ibu Endah yang sedang tersenyum kepadanya untuk membalaskan senyuman dengan senyum genit dan kedipan di mata kanannya.

  “Oke, oke, kamu bisa duduk kembali, terimakasih dengan ceritanya yang… sedikit” Kata Bu Endah kepada Dindin.
  “Sama-sama bu” Dindin berjalan menuju tempat duduknya.

Bu Endah berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sedikit ke tengah depan kelas, sambil membawa Encep dan Junaedi dengan cara memegang pundaknya. Mereka bertiga berdiri di depan kelas.

  “Apapun yang terjadi, Apapun masalahnya…”
  “Minumnya teh botol sosro bu” Seru si Cukong. Semuanya ketawa
  “Iya cukong. Pokoknya apapun itu, kalian itu gak boleh berantem, kalian itu satu tim, satu kelas, satu wali kelas, satu ketua murid, satu seksi keamanan, dan satu sekolah. Jadi kalian itu harusnya bersatu. Siap bersatu!” Ibu Endah menerangkan kepada semua siswa-siswinya.
  “Siap ibu!” Jawab semua siswa-siswi.
  “Ayo kalian berdamai!” Perintah ibu Endah kepada Encep dan Junaedi.

Encep dan Junaedi saling berhadapan, saling mengulurkan tangannya dan mengaitkan masing-masing jari kelingkingnya yang biasa mereka sebut pacantel. Ibu Endah sudah duduk di tempat duduknya.

  ”Coblos no tiga puluh tujuh” Kata Encep. Semuanya ketawa.
  “Kami dari The Virgin” Sambung Junaedi. Semuanya terus ketawa.

Pada akhirnya, mereka berhasil untuk berdamai. Mereka juga berjanji tidak akan berkelahi lagi dengan sesama teman kelasnya, kecuali dengan orang yang berani mengusik kedamaian kelas. Sekolah juga sama berakhir, maksudnya jam sekolah sudah berakhir karena tidak banyak kejadian yang seru untuk diceritakan.
Hari-hari terus berjalan diiringi kedamaian. Dua hari setelah perdamaian, Dindin menceritakan semuanya kepada Sari bersama Encep tanpa Junaedi, tentu cerita yang sebenarnya. Mulai dari mereka berdua menyukai Sari sampai di adakan lomba untuk mendapatkannya.

  “Haha… Emangnya aku ini apa” kata Sari dengan ketawa lepasnya.

Tapi mereka berhenti dalam berlomba dan memilih kerjasama tim setelah melihat Sari bersama Junaedi dan berpacaran. Mereka tidak iri sama Sari, hanya menambah rasa benci kepada Junaedi sampai yang menyebabkan ban motornya kempes dan bocor itu mereka. Sampai akhirnya berdamai untuk selamanya.

  “Oh.. Jadi kalian, pantesan aja” Timpal Sari.

Sari tidak marah, Sari tidak merasa benci kepada mereka, Sari juga bisa maklum, dan bisa meneruskan persahabatannya. Dalam suasana asik mengobrol datang Junaedi seorang diri, menghampiri mereka tepatnya menghampiri Sari.

  “Lagi pada ngapain?” Tanya Junaedi.
  “Lagi pada narik napas Jun” Jawab Dindin.
  “Ah biasa Jun, lagi ngeluarin napas” Sambung Encep
  “Oh….” Seru Sari
  “Kok kamu yang oh nya” Tanya Junaedi “Harusnya kan aku” Lanjutnya.
  “Udah, udah, gak usah sampai terjadi pertumpahan darah” Kata Dindin
  “Sar, Jun, kalian memang serasi” Kata Encep
  “Hehe” Sari tertawa kecil
  “Ya udah Jun, kami titipkan incarannya kepadamu. Jaga baik-baik” Kata Dindin

  “Siap, siap, gak usah di perintah. Itu sudah menjadi kewajiban Pak Iman untuk selalu menjaga” Jawab Junaedi. Semuanya ketawa.

Dindin dan Encep mengiklaskan incarannya, tidak lain ialah Sari. Mereka juga sedikit mengubah janjinya “JANGAN KE SATU KELAS” maksudnya bukan tidak boleh ke semua yang ada di satu kelas, tapi tidak boleh ke teman yang satu kelas.

~Bersambung~

Apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya? 



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Selasa, 10 Januari 2017

Mandi itu.

 Dindin Rasdi     21.01     Cerita Absurd     8 comments   

Mohon perhatian. Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, alangkah baiknya demi kebaikan kita bersama untuk sudah melakukan mandi. Kan biar cakeup seperti aku. Hm :3

Menurut aku sendiri, mandi itu sesuatu hal yang kecil tapi terkadang sangat susah untuk dilakukan. Kenapa coba? Terkadang rasa malas lebih dulu menghampiri dari pada keinginan.

Menurut pengamatan yang Dindin amati beberapa tahun berlalu, ada beberapa tipe manusia ketika mau melakukan mandi. Dan inilah tipe tipe manusia disaat mau melakukan mandi.

  1. Tipe bakal mandi kalau mau jalan, mandi itu tidak penting kalau tidak ada yang ngajakin jalan.
  2. Tipe harus nunggu badan bau, mandi itu tidak penting selama badan masih wangi.
  3. Tipe selalu menunda-nunda, mandi itu tidak penting disaat kesibukanmu menjadi prioritas.
  4. Tipe penuh perencanaan, mandi itu tidak penting disaat rencananya belum disusun secara matang.
  5. Tipe harus di suruh, mandi itu tidak penting ketika tidak ada yang nyuruh.
Nah itulah tipe-tipe manusia kalau mau melakukan mandi, kalian termasuk tipe yang mana gaes? Sudah! Untuk sekarang kamu tidak usah bingung atau pusing, kalau mau mandi ya mandi, kalau tidak ya tidak.

Inilah beberapa dampak yang akan di hasilkan setelah melakukan mandi; Mandi itu bisa membuat badan segar, mandi itu bisa membuat badan bersih, mandi itu juga akan membuat badan basah.

Mandi itu pilihan bukan paksaan, tapi terkadang kita butuh sedikit paksaan untuk melakukan mandi. Seperti halnya menembak gebetan, mandi juga butuh waktu untuk menunggu jawabannya, di terima atau tidak. Tapi mandi itu harus, karena itulah sebabnya ada kamar mandi.

Nonton video di bawah ini untuk selengkapnya.


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Senin, 02 Januari 2017

CINTA-CINTAAN | Episode 4

 Dindin Rasdi     17.54     Novel Online     18 comments   

Perhatian: 

Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini,
kamu sudah membaca cerita sebelumnya.

 
Hari hari terus berlanjut, tanpa bisa di hentikan. Dindin menjalankan aktifitas sekolah seperti murid sekolah pada umumnya, sama halnya juga Encep. Pergi sekolah, belajar, istirahat, pulang sekolah, tanpa memikirkan Sari. Yang ada dalam pikiran mereka sudah bukan Sari lagi, Sari tetap milik orangtuanya hanya dia sudah jadi pacarnya Junaedi. Dindin sadar tidak akan mengganggu orang yang sudah mempunyai pacar, karena ia tahu bagaimana rasanya di ganggu ketika sedang mesra-mesranya. Itu sangat menyakitkan, sepertinya.
 
Tapi yang ada dalam pikiran Encep hanya memikirkan Junaedi. Apakah Encep jatuh hati kepada Junaedi? Oh jangan salah sangka dulu. Encep sangat membenci junaedi, selain merebut tempat duduknya disaat pertama masuk sekolah, melebihi tinggi badannya, dia juga merebut gebetan satu-satunya. Siapa lagi kalau bukan Sari yang ia lombakan bersama Dindin. Hanya memikirkan sebuah rencana yang ditujukan kepada Junaedi. Hasil kerjasama tim bersama Dindin.
 
Waktu istirahat, di hari Jumat. Encep pergi ke parkiran motor di ikuti Dindin yang bertujuan hanya untuk mencari motor milik junaedi. Setelah ketemu, Encep menusukan sebuah paku ke ban belakang motor Junaedi yang menyebabkan kempes dan bocor, sementara Dindin hanya mengempeskan saja ban depannya. Tidak ada yang melihatnya, walaupun seorang satpam karena Pak Iman sedang berada di posnya tidak tahu lagi ngapain, belum di tanya. Apalagi cctv, tidak ada cctv di parkiran motor. Setelah melakukannya, merekapun dengan santai dan wajah tanpa dosanya kembali menuju kelas.
 
Ketika pulang sekolah, tepatnya ketika orang-orang mengambil motornya di parkiran yang sebelumnya disimpan, Dindin melihat Junaedi sedang memeriksa ban motornya tentu bersama Sari. Encep yang berjalan bareng Dindin juga melihat Junaedi, hanya dia melihatnya dengan senyuman kecil. Junaedi melihatnya dengan hasil lirikan sana-sini, dia juga merasa curiga kalau Encep yang menyebabkan ban motornya kempes. Encep, Dindin, dan semua murid sekolah pulang seperti biasanya di hari Jumat yang pulang di jam lebih cepat dari hari selain Jumat. Junaedi juga meninggalkan sekolah bersama Sari, sambil mendorong motornya yang kempes ke lokasi tambal ban.
 
  “Kenapa motornya jang?” Tanya Pak Iman.
  “Ini pak kempes” Jawab Junaedi.
  “Oh.. tuh di pertigaan kan ada tambal ban”
  “Iya pak, ini juga mau kesana”
  “Mari pak” Sari bersuara.
  “Iya, iya, mari” Jawab Pak Iman.
 
Merekapun menuju lokasi tambal ban, dan menambal bannya. Sekitar lima belas menit selesai, Junaedi memberikan bayaran kepada tukang tambal ban. Mereka langsung pulang.
 
Besoknya, hari Sabtu, masih pagi. Encep dan Dindin sudah berada di kelas, tidak hanya mereka berdua teman-teman sekelasnya juga sudah berada di kelas tapi sebagian, Sari juga belum datang ke kelas. Tiba-tiba Junaedi datang bersama teman sebangkunya si Oman, menghampiri Encep dan langsung merangkul kerah bajunya di lanjut memukul perutnya dengan gaya kuda-kuda seolah-olah dia ahli bela diri. Mereka berdua berkelahi tanpa ada yang berani memisahkan, sebelumnya Dindin sempat memisahkan mereka.
 
  “Diam Din, ini perkelahian kami” Kata Encep dengan jiwa lakinya.
  “Iya Din” Junaedi ikut mengiyakan juga.
 “Oh siap Cep, Jun, dengan penuh hormat kami sekelas yang belum datang semuanya mendukung perkelahian ini sebagai acara pembukaan untuk belajar di hari ini” Seru Dindin seraya memimpin penghormatan kepada perkelahian mereka.
  “Makasih Din” Seru Oman.
 
Mereka terus berkelahi seperti pertarungan di game yang berkelahi. Semua murid kelas itu menontonnya sambil memberikan semangat bersorak yang tidak terlalu kencang supaya tidak terlihat dan terdengar ramai, karena kalau terlihat dan terdengar ramai semua murid sekolah pasti menuju kelas itu. Satu per satu murid yang belum datang akhirnya datang, begitu juga Sari. Dia melihat Encep dan Junaedi tepatnya pacarnya berkelahi, lalu Sari terdiam sesaat beberapa menit.
 
Pak jajang datang ke kelas dan melihat perkelahian, kesunyian menyelimutinya beberapa detik, Encep dan Junaedi berhenti sebentar untuk melihat Pak jajang.
 
  “Oh silakan lanjutkan saja, sampai ada pemenangnya” Kata Pak Jajang.
  “Tidak ah pak, malu sama bapak” Jawab Junaedi.
  “Tumben kamu punya rasa malu”
  “malu itu sebagian dari iman pak, kalau aku tidak punya rasa malu berarti aku gila”
  “Ya udah semuanya duduk di kursi masing-masing”
  “Siap bapak” Jawab semua murid kelas dengan gembira.
 
Pak Jajang itu adalah guru seni budaya yang mengajar setiap hari Sabtu di jam pertama. Semua murid duduk di kursinya masing-masing dan memulai pelajarannya. Bagaimana dengan Encep dan Junaedi? Mereka berdamai sementara.
 
Pelajaran pertama dan kedua berakhir, waktunya istirahat. Encep sedang makan batagor bersama Dindin di kantin tepatnya di tukang batagor, kemudian Junaedi menghampirinya bersama si Oman.
 
  “Wey broh” Sapa Junaedi.
  “Wey juga broh” Jawab Dindin.
  “Hah, bukan untuk kamu”
  “Apa Jun” Tanya Encep
  “Kita lanjutkan perkelahian tadi di luar sekolah”
  “Oh siap, dimana?”
  “Di belakang terminal”
 
Junaedi meninggalkan mereka, mereka juga meninggalkan kantin setelah menghabiskan batagor.
 
  “Eh Cep, Din bayar dulu!” Kata Bi Acah. Sekelas info: Bi Acah itu orang yang jualan batagor di kantin sekolah.
  “Oh… iya bi maaf lupa” Jawab Dindin dengan senyum manis “nih bi” lanjutnya
  “Nih bi” Encep juga membayarnya.
 
Mereka berhasil meninggalkan kantin setelah membayar batagor yang dimakannya untuk langsung ke kelas. Setelah semua pelajaran berakhir, sekolah juga ikut berakhir dan membubarkan semua siswa-siswinya dengan suara bel yang sangat dinantikan.
 
Encep dan Dindin menunggu di belakang terminal, sementara Junaedi sedang dalam perjalanan menuju belakang terminal. Mereka bertemu, saling pandang, dan Encep kelihatan sedikit gemetar, Dindin juga jantungnya deg degan, karena kalau tidak deg degan berarti mati. Junaedi datang bersama sekelompok anak kelas tiga yang biasa membuli anak kelas satu dan dua.
 
  “Bentar broh” Tanya Encep dengan gemetar.
  “Haah? Takut?” Jawab Junaedi.
  “Mau kencing dulu Jun”
 
Encep menghampiri pepohonan kecil dan langsung kencing seperti kuda. Selesai kencing dia menghadap Junaedi kembali dan langsung memukul tepat di wajahnya. Semua yang ada di sana, yang sedang menontonnya, bersorak ramai. Encep dan Junaedi melanjutkan perkelahiannya. Di saat berlangsungnya perkelahian ada seorang bapak melewati sekelompok anak sekolah yang menonton perkelahian itu.
 
  “Itu pisahin, jangan berkelahi” Kata seorang bapak yang lewat.
  “Lagi latihan karate pak” Jawab seorang anak kelas tiga, tidak tahu namanya, belum memberitahunya.
  “Oh yaudah hati-hati nak”
  “Iya siap pak”
 
Akhirnya perkelahian itu berakhir tanpa ada pemenang, keduanya babak belur, wajahnya di penuhi bekas pukulan. Junaedi di hampiri anak kelas tiga, Encep di hampiri Dindin.
 
  “Kuat juga ya kamu” Kata salah seorang anak kelas tiga kepada Encep.
  “Yoi” Jawab Encep dengan rasa sakit di wajahnya
 
Kelompok anak sekolah itu semuanya bubar, setelah perkelahian yang tidak membuahkan hasil selesai. Encep pulang bersama Dindin. Junaedi pulang bersama Oman. Anak kelas tiga pulang bersama.
 
~Bersambung~

Apa yang akan dilakukan Encep dan Dindin setelah perkelahian? Tunggu kelanjutannya di postingan selanjutnya yah...
 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

FOLLOW ME, OK!

  • Twitter Facebook Instagram Google Plus Youtube Channel

POSTINGAN POPULER

  • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Beberapa hari setelah merelakan Sar...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 4
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya.   Hari hari terus berlanjut, tanpa ...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 5
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Tidak terasa sudah berada di hari S...

Arsip Blog

  • ▼  2017 (8)
    • ▼  September (1)
      • Dialah Jon! #1
    • ►  Februari (3)
      • CINTA-CINTAAN | Episode 7
      • Cara membuka Google
      • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    • ►  Januari (4)
      • Ingin Sekolah.
      • CINTA-CINTAAN | Episode 5
      • Mandi itu.
      • CINTA-CINTAAN | Episode 4
  • ►  2016 (18)
    • ►  Desember (12)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)

Copyright © dindinrasdi