dindinrasdi

  • Home
  • Dindinrasdi
  • Tutorial
  • Cerita Absurd
  • Novel Online
  • Sekelas Infoh

Rabu, 30 November 2016

Bolos Sekolah #3 - Berpikir keras

 Dindin Rasdi     14.43     Cerita Absurd     4 comments   

Seperti manusia pada umumnya, namun tidak sama karena semua manusia diciptakan berbeda-beda, setiap melihat pemandangan indah yang kami lewati pasti kami berhenti untuk mengambil foto, maksudnya kami berfoto-foto dulu, buat dokumentasi di masanya. Begitu banyaknya pemandangan indah yang kami lewati mulai dari langit indah yang berwarna biru, gunung kerucut yang berwarna hijau, sawah datar yang berbentuk kotak juga berbentuk lainnya kecuali bulat, sungai persegi panjang yang tidak tahu ujungnya, perkebunan teh yang begitu luas, perkampungan, pedesaan, dan masih banyak lagi.
Sempat nyasar berkali-kali kebeberapa daerah di Garut, karena kami sama sekali tidak tahu jalannya, Lubis juga yang katanya pernah kesana dan tahu jalannya mendadak lupa begitu saja. Ceritanya disingkat, akhirnya setelah nyasar sana sini, kami bertiga sampai di Santolo sekitar jam tiga lebih sedikit dengan waktu kurang lebih enam jam lewat.
Tidak ada kata menyesal setelah disuguhi pantai begitu indah disekitar Santolo, tentu masih alami untuk kami lihat yang Tuhan ciptakan dengan sengaja. Langsung saja melewati gapura selamat datang, tadinya kami kira akan membayar untuk masuknya tapi sama sekali tidak alias gratis, mungkin karena masih belum banyak ada orang yang tahu pada saat itu, tidak tahu kalau sekarang pasti sudah bayar dan juga rame-rame seperti tempat wisata pada umumnya. Kami istirahat sejenak untuk melepaskan rasa cape yang melanda, sambil mempersiapkan diri untuk menuju pulau Santolonya. Oh iya kami masih belum sampai tepat di Santolonya hanya sudah sangat dekat dan terlihat pantai yang tidak tahu namanya, untuk mencapai pantai santolo dibutuhkan perahu untuk menyebrangnya karena Santolo terpisah dari tempat kami istirahat. Sebenarnya berenang juga tidak apa-apa untuk menyebranginya, tapi kami sama sekali tidak mau.
Dengan membayar masing-masing empat ribu rupiah untuk jasa perahunya kami langsung segera membayarnya di tempat yang kami tuju yaitu Santolo. Berfoto-foto disetiap ada hal yang indah, ataupun yang aneh itulah yang kami lakukan sesampai di Pantai Santolo, jadi sebenarnya tujuan kami itu hanya berfoto-foto untuk di upload di sosial media dan menikmatinya.
Tidak begitu lama sekitar pukul setengah enam kami memutuskan untuk pulang, karena suasana di Santolo sudah gelap menyeramkan, masih belum ada listrik, yang tersisa cuma kami bertiga dan satu rombongan, seperti pulau yang misterius gitu. Hih serem.
Uang yang kami punya saat itu untuk pulang hanya tersisa lima belas ribu rupiah, sedangkan bensin yang ada di motorku sudah hampir habis, untungnya dimotor si Lubis masih lumayan banyak. Berpikir keras bagaimana caranya supaya dengan uang segitu kami bisa pulang dengan selamat tentunya. Akhirnya kami diberi pencerahan dengan sedikit ide yang lumayan gila, kami memutuskan untuk mengisi bensin dengan uang lima belas ribu itu untuk motorku, dan menderek motorku dengan tambang oleh motor si Lubis sampai bensin yang ada dimotor si Lubis benar-benar habis setelahnya gantian.

~Bersambung~

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Sabtu, 26 November 2016

Bolos Sekolah #2 - Tekad persegi panjang

 Dindin Rasdi     00.57     Cerita Absurd     1 comment   

Kejadian yang tidak di inginkan, sama sekali tidak menginginkannya, motorku yang di kendarai Fahmi kena stop polisi, baru saja di Singaparna. Padahal masing-masing kami memakai helm, kaca spion di pasang dua-duanya, sarung tangan di pasang, pokoknya semua atribut berkendara kami pakai supaya tidak di stop polisi. Mungkin si polisi itu tahu kalau kami belum memiliki Sim, tapi tahu dari mana yah, hmmm. Oh iya sedikit informasi, kami bertiga mengendarai dua motor, maksudnya bukan dua motor sekaligus kami kendarai, tapi aku bersama Fahmi dan Lubis sendiri.
 
Fahmi seperti orang yang tidak memiliki nyawa ketika aku beritahu kalau di depan ada polisi yang sedang mengatur jalanan, Fahmi seperti orang yang kena hipnotis begitu saja melihat polisi, tidak mendengar apapun yang aku ucapkan untuk menghindari polisi itu, mungkin dia mendengarkannya tapi dia mengabaikannya saking groginya dia berhadapan dengan seorang polisi. Apakah Fahmi jatuh cinta terhadap polisi itu di saat pertama kali menatap wajahnya. Oh hanya Fahmi dan Tuhanlah yang tahu isi hatinya saat itu.
 
Kami sangat takut kena tilang, karena biasanya si Polisi suka minta uang tebusan atau uang perdamaian, tapi aku juga takut kalau ikut sidang padahal sidang malah lebih enak dan gampang, juga mengakui kesalahan tanpa harus mengeluarkan uang perdamian untuk polisi, tapi untuk orang yang menyidangnya, maksudnya untuk Negara. Ahhhh... apakah itu permainan oknum polisi untuk kepuasan tersendiri.
 
Lubis yang lumayan jauh berada di belakang motor kami sempat teriak-teriak dengan kode hanya kami bertiga yang tahu, untuk menghindari polisi dengan apapun caranya. Untungnya dia tidak kena tilang, karena dia langsung berhenti ke pinggir jalan setelah teriakan terakhirnya di abaikan oleh kami berdua.
 
     “Boleh lihat surat-suratnya?” Tanya polisi itu kepada kami berdua.
     “Boleh” jawab Fahmi kepada polisi.
     “Mana Din STNKna” Tanya Fahmi kepadaku.
     “Nih” Aku memberikan STNK motorku kepada Fahmi untuk di perlihatkan ke polisi.
     “SIM?” Tanya polisi lagi kepada Fahmi.
     “Aduh belum punya Sim, Pak”
     “Oke, ikut bapak kesini” si Polisi mengajak kami berdua mengikutinya untuk ke sebuah pos tempat jaga polisi itu. Ingat yah, ke sebuah pos polisi, bukan pos kamling, atau pos ronda, atau pos kantor, atau posko pengungsian.
     “Jadi kalian bapak tilang yah” Polisi itu mengeluarkan kumpulan kata dengan sikap seolah-olah tegap menurutnya.
      “Aduh Pak, jangan Pak” Jawabku sambil memohon supaya tidak di tilang.
      “Pokonya kalian berdua bapak tilang, karena belum memiliki SIM. Ini STNK juga bapak tahan nanti Jumat ikut sidang” Kata polisi itu sambil menulis surat tilang yang berwarna merah.
      “Wahhhh, jangan dong Pak.” Aku masih memohon kepada polisi itu.
      “Tidak bisa, pokonya kalian bapak tilang”
 
Hampir satu jam dikurangi sekitar 30 menit, aku terus berupaya dengan berbagai alasan terhadap si Polisi itu, supaya STNK motorku tidak di tahan. Nah si Fahmi kemana? Oke si Fahmi tidak kemana-mana masih bersama aku dan si Polisi, hanya terdiam saja tanpa bersuara sedikit pun. Setelah begitu lamanya, sekitar 31 menit, entah kenapa tiba-tiba si Polisi itu menawarkan STNKku kembali, tapi dengan barang perdamaian, uang tentunya. Menanyakan berapa uang yang kami punya untuk di tukar dengan STNKku, lantas aku begitu senang, tapi tidak senang. Senangnya STNKku bisa kembali disaat itu juga, tidak senangnya polisi itu meminta uang yang kami punya, sedang kan uang kami tidak sebarapa hanya cukup untuk bekal dan pulang pergi Tasik-Santolo.
 
    “Udah Din, nih aku lima puluh ribu” Akhirnya Fahmi bersuara sambil memberikan uang kepadaku untuk di tambah lagi dengan uang yang ku punya.
    “Nah sok patungan, biar cepat” Kata si Polisi di sertai wajah yang kelihatan gembira.
    “Yaudah Pak, nih. Kami hanya punya uang segini (Seratus ribu hasil patungan)” Aku memberikan uangnya kepada polisi dan poilisi memberikan STNK kepadaku, diakhiri perdamaian di tempat dengan happy ending dari kedua belah pihak, tapi aku tetap tidak happy hanya pura-pura happy saja karena uang kami hampir habis.
 
Perjalananpun di lanjut kembali untuk beberapa meter saja supaya menjauh dari pos polisi untuk menunggu si Lubis, kan dia belum melewati jalan yang ada pos polisinya takut kena tilang juga. Yaudah aku samperin si Lubis kembali dengan berjalan kaki untuk mencari jalan pintas yang tidak melewati pos polisi, Fahmi menunggu berdua bersama motor di tempat yang sudah melewati pos polisi beberapa meter itu.
 
Tidak perlu waktu seharian untuk menemukan jalan pintas, akhirnya kami bisa berkumpul di tempat yang sudah Fahmi tunggu. Berundinglah kami bertiga untuk melanjutkan perjalanan atau berhenti disini, kemudian pulang kembali ke rumah masing-masing. Sekitar tujuh puluh lima ribu, uang yang kami bertiga punya saat itu di ragukan untuk bisa cukup bekal dan pulang pergi Tasik-Santolo. Dengan tekad yang persegi panjang di barengi semangat empat lima merasa ingin tahu, akhirnya kami bertiga tidak memutuskan untuk pulang kembali ke rumah dan melanjutkan perjalanan menuju Santolo dengan bekal seadanya.
 
~Bersambung~

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Rabu, 23 November 2016

Bolos Sekolah #1 - Dimulai dari sini

 Dindin Rasdi     23.25     Cerita Absurd     6 comments   

Semuanya sudah di rencakan dengan sangat matang, kami bertiga akan bolos sekolah di hari sabtu untuk pergi ke pantai Santolo, pantai yang ada di daerah Garut. Tidak tahu tanggal dan bulan apa, itu sudah terlupakan begitu saja di telan waktu. Kenapa kami ingin bolos sekolah pergi ke pantai santolo, karena aku penasaran. Suatu hari ada temanku si Deblo namanya, kasih tahu kalau di daerah Garut ada sebuah pantai yang namanya Santolo, katanya sih sangat indah, bagus, dan tentunya masih alami, masih belum banyak orang yang tahu, tidak seperti sekarang sudah banyak orang pergi ke sana yang tidak tahu mau ngapain, pastinya lihat pantai. Si Deblo sendiri belum pernah pergi ke sana, tidak tahu kalau sekarang mungkin saja dia sudah pernah pergi ke sana, dia tahu itu dari temannya juga, tapi aku tidak tahu temannya si Deblo itu, dan aku sama sekali tidak mau tahu.
 
Pada hari Rabu, kalau tidak salah berarti benar, di suatu tempat untuk mencari ilmu dimana siswa siswi atau murid melakukan prosses pembelajarannya yang di namakan sekolah. Aku ajak teman sekelas, maksudnya bukan di ajak satu kelas untuk bolos, tapi hanya beberapa saja yang kebetulan satu kelas denganku, teman bolos, si Fahmi dan si Lubis namanya untuk bolos di hari Sabtu. Mereka berdua itu laki-laki, tentu mereka juga manusia berkepala satu, bertangan dua, berkaki dua, punya mata dua, telinga dua, sama seperti umumnya manusia.
 
    “Mi wang ka Santolo yu ah” Seruanku terhadap si Fahmi, itu bahasa sunda yang artinya Mi kita ke Santolo yu.
    “Hah Santolo? Dimana?” Jawabnya dengan kembali bertanya, karena mungkin dia tidak tahu dimana Santolo itu, memang dia tidak tahu, makanya dia balik nanya.
     “Di Garut cenah” cenah itu bahasa sunda yang berarti katanya, aku menjawab dengan mudah pertanyaan yang di berikan Fahmi kepadaku. Sebenarnya aku juga tidak tahu tepat lokasinya, pokoknya lokasinya itu di daerah Garut, itu juga kata si Deblo.
     “Kapan?” Fahmi memberikan pertanyaan lagi.
     “Nanti hari Sabtu sekarang Mi”
   “Waduh… tidak bisa Din, aku mau ke pantai Pangandaran bareng teman-teman kampung” Fahmi menolaknya dengan begitu halus, tentunya mungkin itu di sertai dengan penuh keiklasan, tidak sampai menjerit-jerit, karena itu akan kelihatan begitu lebay dan menjijikan.
     “Euuhhh” Kataku dengan sedikit menyesal.
     “Udah, mending ke Pangandaran aja Din, biar nanti kita bareng” Fahmi nawarin aku bolos nya pergi ke Pangandaran bersama bareng temannya.
     “Nggak ah, aku pingin ke Santolo, udah bosen ke Pangandaran mah” Aku juga menolak tawaran yang Fahmi ajukan dengan sikap yang penuh percaya diri.
     “Ya udah, kalau gak mau ikut mah”
    “Ya udah” Kami berdua saling menolak tawaran yang di ajukan dari masing-masing tawaran yang di tawarkan kepada masing-masing kami.
 
Dengan sikap tegar, tenang, dan ceria aku langsung pergi dari tempat kami ngobrol tentunya kami tidak saling membenci, dan untuk segera menemui si Lubis. Aku tidak tahu apa yang di lakukan Fahmi setelah aku meninggalkanya beberapa detik yang lalu, mungkin fahmi diam saja di tempat itu, mungkin loncat-loncat seperti jungkir balik kalau dia mau, atau mungkin dia melakukan aktrasi spektakuler seperti limbad, atau mungkin juga dia bunuh diri. Tapi nyatanya dia tidak melakukan apapun sama sekali, oh maafkan aku yang sudah berfikiran seperti itu.
 
Si Lubis yang sedang asik tidak tahu asik ngapain, keliatan nya memang sedang asik menurut orang yang menganggapnya asik, bagiku hanya biasa saja. Aku samperin dia.
 
     “Bis euy” Aku memangginya.
     “Naon sia Din?” Jawabnya dengan wajah yang asik menurut orang yang menganggapnya asik itu. Oh, itu bahasa Sunda yang sedikit kasar artinya apa kamu din?
 
Sudah jelas aku ini manusia tapi dia menganggapku kadal karena nama panggilanku Dindin kadal, katanya aku mirip kadal, tapi aku tidak begitu mempedulikannya. Karena itu yakin hanya sebuah candaan, walaupun bukan candaan juga aku tetap tidak akan peduli.
 
     “Tahu Santolo gak?”
     “Oh, Santolo yang ada di Garut itu” Ternyata dia tahu kalau Santolo itu ada di Garut, maksudnya dia sudah tahu pantai Santolo itu.
     “Iya”
     “Tahu lah, aku sudah pernah pergi ke sana” Pantesan aja dia tahu.
     “Sabtu kita bolos yu ke sana” Hasutanku kepada si Lubis untuk mengajak bolos sekolah.
    “Hayu, siapa saja” Dia menyetujui ajakanku untuk bolos di hari Sabtu di sertai pertanyaan yang begitu mudah untuk di jawab, dia memang selalu setuju kemanapun atau kapanpun bolos itu akan berlangsung, karena dia itu si raja bolos no satu di kelas kami, aku no dua, Fahmi no 3, dan no 4 nya kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
     “Berdua aja Bis” Mudahkan aku menjawabnya.
     “Masa berdua?” Dia bertanya dengan heran, mungkin menurutnya seperti orang yang mau pergi kencan. Oh sit aku ini laki-laki yang masih normal, akan normal, dan Insya Allah normal selamanya.
    “Iya, tadi aku sudah ajak si Fahmi tapi dia tidak mau, dia mau ke Pangandaran bareng teman di kampungnya” Aku menjelaskan nya.
     “Oh, ya udah. Jadi kita berdua aja” Akhirnya dia benar-benar setuju untuk bolos ke pantai Santolo di hari Sabtu.
     “Oke” Jawabku yang sangat singkat.
 
Tiba di hari Sabtu, dengan begitu cepatnya hari berlalu sampai aku tidak keburu nulis semua yang terjadi di hari sebelumnya, karena itu tidak terlalu penting untuk ditulis, aku tidak mengingatnya sampai sekarang, dan memang sengaja aku tidak mengingatnya. 
 
    “Din aku ikutlah ke Santolo” Pagi-pagi sekali sekitar jam 6, si Fahmi ngirim Sms kepadaku dengan kemungkinan berharap aku masih belum berangkat. Tidak pake lama aku langsung balas smsnya dengan mengiyakan tanpa memberi pertanyaan kenapa tiba-tiba kamu mau ikut, kan katanya mau ke Pangandaran.
     “Jemput atuh ke rumah Din, aku tidak ada motor” Balasan smsnya seraya menyuruh aku menjemputnya.
     “Oke, wait” Aku membalas Smsnya dan langsung menjemput si Fahmi yang berada di rumahnya.
 
Setelah aku menjemputnya, kami berdua hanya tinggal menunggu satu orang. Siapa lagi kalau bukan si Lubis, karena kalau si Nanang tidak mungkin karena dia orangnya rajin, rajin banget, saking rajinnya dia terpilih jadi ketua osis, apa lagi si bibi cikur jelas dia akan menolaknya karena nanti tidak ada yang jaga kantin di sekolah. Kami berdua menunggu di dekat terminal, di sebuah warung kecil tempat biasa kami berkumpul sepulang sekolah, tentunya dipinggir jalan. Sampai jam Sembilan dari jam Tujuh kami menunggunya disertai sangat kesalnya terhadap kelakuan si Lubis yang begitu kaleumnya. Dengan wajah tanpa dosa dia tiba-tiba ada dihadapan kami. Tentunya dia tidak melakukan teleportasi seperti Son Goku untuk ada di hadapan kami, hanya mengendarai motor mio hitam dari rumahnya untuk ada di hadapan kami, berpakaian seperti koboy, jaket kulit seperti preman pasar, sepatu yang sampai ke lutut panjangnya, hanya tidak memakai rok mini saja.
 
Kami bertiga sudah berkumpul dititik awal perjalanan kami yaitu disebuah warung kecil tadi. Perjalananpun dimulai dari sini.
 
~Bersambung~
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+

Selasa, 22 November 2016

Sayur rasa kolak

 Dindin Rasdi     00.06     Cerita Absurd     No comments   

Pagi itu yang cerah sekitar masih pukul tujuh pas, atau mungkin kurang, atau mungkin lebih, atau mungkin aku masih tidur. Nyatanya aku sudah siap berangkat ke sekolah, tentu saja dengan berseragam sekolah yang sedikit rapih. Itu aku baru kelas dua, dua Smk yah bukan dua Sd atau Smp. Tiba-tiba aku merasa mual, kenapa harus tiba-tiba sih mual itu terasa, karena memang kenyataannya tiba-tiba. Perlu kamu ingat yah aku ini bukan hamil yang kaya di film kalau mual itu pasti di identikan dengan kehamilan, tapi emang iya yah kalau hamil tuh suka mual-mual, tidak tahu belum pernah hamil sebelumnya, karena aku ini laki-laki masa laki-laki hamil kan tidak mungkin. Aku merasa ingin muntah, dan iya aku langsung muntah begitu saja tanpa mengambil ancang-ancang untuk melakukannya. Bagiku Itu muntah pertama kali, aku pun kaget serasa kena santet, karena biasanya aku tidak pernah muntah dan ini tiba-tiba. Dengan begitu aku langsung panggil ibu, sudah jelas yang di panggil itu ibu aku, bukan ibu kamu.

    “Mah…Mah…” Aku memanggil ibu dengan panggilan mah, itu maksudnya mamah, dengan suara dan wajah yang menghawatirkan seperti orang yang sedang sakit.
    “Kenapa de?” Ibu menjawab, maksudnya menjawab dengan pertanyaan di sertai ekspersi yang sangat cemas, gimana tidak cemas melihat anaknya sendiri yang tadinya terlihat tampan, ceria dan semangat, menurutnya. Tiba-tiba terlihat sedang muntah-muntah, dan langsung panik.
    “Gak tahu mah, ini tiba-tiba aku muntah gitu” Jawabku.
   “Kenapa bisa muntah-muntah? kamu kan tidak pernah muntah sebelumnya” kata ibu sambil memijit pundak, pastinya itu pundak aku. Tidak mungkin kan pundak ibu aku, tapi bisa mungkin saja sih kalau ibu mau memijat pundaknya sendiri, nyatanya itu tidak di lakukan.
    “Iya mah, aku juga bingung” Jawabku sambil muntah-muntah.

Setelah mendengar jawaban yang aku jawab dari pertanyaan ibu, ibu kelihatan begitu gelisah. Padahal jawaban itu sangat biasa banget.

    “ya udah kamu tiduran aja! Tidak usah sekolah kalau gitu, kan kamu sakit”
   “Iya mah” Aku langsung pergi ke kamar untuk melakukan tiduran dengan di bantu ibu untuk jalannya, meskipun aku masih kuat jalan menuju kamar, tapi ibu tidak membiarkan aku jalan sendiri.
   “Tiduran aja dulu yah, mamah ambilkan makan dan minum” Ibu menyuruh aku untuk tiduran sambil pergi ke dapur. Itu maksudnya bukan nyuruh aku tiduran sambil pergi ke dapur, tapi ibu pergi ke dapur sambil nyuruh aku tiduran dulu.

Karena ibu tahu kalau aku itu gak suka makan atau minum obat, kecuali obat yang rasanya manis. Jadi ibu tambah panik dan gelisah seperti memilih tombol untuk mematikan bom dalam waktu 10 detik, eh bukan 3 detik aja deh. Kebetulan itu di dapur sudah tidak ada makanan kecuali nasi. Ibu langsung pergi ke rumah kakak yang jaraknya tidak terlalu jauh cuma terhalang oleh dua rumah tetangga untuk meminta sayurannya, kenapa tidak ke rumah tetangga saja padahal sangat dekat, aku tidak tahu karena ibu yang melakukannya, dan aku juga tidak perlu tahu. kakak itu adalah kakakku yang sudah berumah tangga, sudah jelaslah itu anak ibu karena dia kakakku.

    “Win ada sayuran?” Kata ibu pas sampai di rumah kakak yang kebetulan pintu rumahnya terbuka karena kakak sedang menjahit baju, entah baju siapa itu. Win itu adalah nama kakaku dengan nama lengkapnya Wiwin widyaningsih, kakak pertama, seorang perempuan, sudah berumah tangga yang sekarang sudah punya tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Sebenarnya itu tidak harus aku kasih tahu, tapi sengaja aku kasih tahu biar kamu tahu, walaupun kamu tidak ingin tahu.
     “Itu ada di dapur mah, ambil saja” kakak menjawab sambil terus menjahit.

Lalu ibu pergi ke dapur untuk mengambil sayuran yang berada di atas meja dengan dua wadah sayuran, ibu memilih salah satu dari dua sayuran itu untuk di campurkan dengan nasi yang di bawa dari rumahku atau rumah ibuku kemudian di tambahkan kecap.

    “Makasih win” Ibu berkata kepada kakak sambil pergi kembali ke rumahnya dengan buru-buru, sampai tidak keburu kakak menjawab yang ibu katakan. Padahal kakak hanya perlu berkata iya atau sama-sama, mungkin dia mengatakannya.

Setelah sampai di rumah lagi dengan tidak lupa masuk lewat pintu yang di buka, ibu langsung ke kamar tempat aku berada, dan langsung menyuapkan nasi ke mulutku, padahal aku sedang tiduran.

     “Nih makan dulu de, biar sembuh” Ibu berkata sambil menyuapkan nasi dengan memakai sendok, aku pun langsung memakan nasi itu.
     “Loh ko manis mah?” Aku bertanya dengan sedikit rasa heran sambil mengunyah nasi itu dan sedikit menelannya.
     “Oh baguslah kalau rasanya manis” Ibu menjawabnya dengan mudah dan senang.
     “Beneran mah ini rasanya manis”
     “Iya bagus de kalau terasa manis, biasanya orang sakit tuh kalau makan suka terasa pahit” begitu kata ibu dengan wajah senangnya.
     “Cobain deh sama mamah, ini memang manis mah” Kataku sambil menyuruh mamah nyobain nasi itu.
     “Oh iya yah manis, tapi ini kaya rasa kolak deh” Ibu berkata sambil senyum-senyum gitu, setelah nyobain nasinya.
     “Tuh kan manis mah” Kataku sambil sedikit tersenyum.

Kemungkinan besar di saat ngambil sayuran, ibu salah ngambil sayuran, ibu memilih memasukan kolak yang begitu mirip dengan sayuran ke nasi yang di bawa itu. Karena di atas meja tempat sayuran berada ada dua wadah sayuran. Itu menurutku sih, tapi tidak tahu. Ternyata memang iya, yang ibu ambil itu memang kolak, kolak pisang. Itu kata kakak yang pas waktu sore datang ke rumahku atau rumah ibuku untuk sekedar main saja.

Setelah aku memakan nasi yang di campur kolak dan sedikit kecap itu, tidak lama kemudian aku langsung sembuh dari muntah-muntah itu dan bersemangat kembali dengan tetap tidak sekolah, karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan, tidak tahu kurang, tidak tahu lebih. Sebenarnya bisa saja aku pergi ke sekolah, paling cuma kesiangan berapa jam dan kena sangsi atau di suruh pulang kembali, makanya aku lebih memilih tidak pergi ke sekolah. Kecuali menunggu hari esok, itu juga kalau bukan hari minggu, kan libur.

Dari kejadian itu aku bisa simpulkan kalau nasi di campur kolak dan sedikit kecap, maka nasi itu akan terasa manis. Mungkin itu bisa menjadi obat muntah-muntah, Mungkin. Itu menurut aku sih, cobain aja kalau kamu muntah-muntah. Tapi jangan salahkan aku kalau kamu sembuh, salahkan saja dirimu sendiri. Toh kamu sendiri yang memakannya.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

FOLLOW ME, OK!

  • Twitter Facebook Instagram Google Plus Youtube Channel

POSTINGAN POPULER

  • CINTA-CINTAAN | Episode 6
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Beberapa hari setelah merelakan Sar...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 4
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya.   Hari hari terus berlanjut, tanpa ...
  • CINTA-CINTAAN | Episode 5
    Perhatian:  Akan lebih baik sebelum membaca cerita ini, kamu sudah membaca cerita sebelumnya. Tidak terasa sudah berada di hari S...

Arsip Blog

  • ►  2017 (8)
    • ►  September (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (4)
  • ▼  2016 (18)
    • ►  Desember (12)
    • ▼  November (4)
      • Bolos Sekolah #3 - Berpikir keras
      • Bolos Sekolah #2 - Tekad persegi panjang
      • Bolos Sekolah #1 - Dimulai dari sini
      • Sayur rasa kolak
    • ►  Juli (2)

Copyright © dindinrasdi